
MALUKU INDOMEDIA.COM, AMBON– Ketua Dewan Penasehat Senior GMKI, Febry Calvin Tetelepta (FCT), menghadiri Pertemuan Raya Senior GMKI Cabang Ambon yang digelar di Golden Palace Hotel, Sabtu (21/2/2026). Kehadiran FCT menjadi sorotan, bukan sekadar sebagai undangan, tetapi sebagai figur pembina yang aktif memberi arah dan gagasan strategis bagi organisasi kader tersebut.
Forum yang diinisiasi GMKI Cabang Ambon itu turut dihadiri Walikota Ambon Bodewin M. Wattimena, MPH Sinode Gereja Protestan Maluku, para rektor perguruan tinggi yakni ,Rektor UNPATTI,Rektor UKIM, Rektor IAKN , Ketua Umum PNPS GMKI , hingga Ketua DPRD Kota Ambon.
Sebagai senior PNPS GMKI, FCT menegaskan pentingnya pertemuan raya sebagai ruang konsolidasi lintas generasi. Menurutnya, GMKI tidak boleh terjebak pada romantisme sejarah, tetapi harus tampil sebagai kekuatan moral-intelektual yang relevan menjawab persoalan kota dan bangsa.
Dalam sesi seminar, FCT tampil sebagai penanggap dan memberikan respons tajam terhadap paparan Walikota Ambon terkait tata kelola sampah. Ia mendorong agar kebijakan pemilahan sampah organik tidak berhenti pada wacana, melainkan disertai langkah teknis seperti pencacahan sebelum dibuang ke TPS guna mengurangi volume dan memperpanjang daya tampung.
“Pengelolaan sampah harus dimulai dari hulu. Kalau organik dicacah, volumenya turun drastis. Itu langkah sederhana tapi berdampak besar,” tegas FCT.
Berdasarkan pengalamannya di Dubai dan di Belanda, FCT mengungkapkan bahwa sejumlah negara telah mengelola sampah sebagai komoditas energi. Ia menyebut praktik pengolahan dan distribusi sampah untuk kebutuhan pembangkit energi sebagai bukti bahwa sampah bukan sekadar residu, tetapi sumber daya bernilai ekonomi.
Sebagai Dewan Penasehat, FCT menekankan bahwa GMKI harus berani masuk dalam isu-isu strategis seperti lingkungan, tata kelola kota, dan keberlanjutan ekonomi. “GMKI harus menjadi mitra kritis yang menawarkan solusi, bukan sekadar pengamat,” ujarnya.
Kehadiran dan pernyataan FCT dalam forum tersebut mempertegas posisi pembina sebagai penggerak ide dan jembatan kolaborasi antara organisasi kader, pemerintah, dan masyarakat. Dari Ambon, pesan transformasi itu ditegaskan: berpikir global, bertindak lokal, dan berani berubah. (MIM-MDO)







