
MALUKU INDOMEDIA.COM, AMBON— Di tengah keterbatasan, semangat juang anak-anak Desa Rumahlewang Besar, Pulau Wetang, Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD), justru meledak di panggung Kejurda Inkado Maluku 2026. Sebanyak 19 atlet pemula tampil tanpa gentar dan pulang membawa 9 medali emas dan 10 perak.
Dan peringkat ke 3 dari 17 kabupaten/ kota yang mengikuti kejuaraan, ini sebuah capaian yang tak sekadar prestasi, tapi juga tamparan bagi minimnya perhatian terhadap talenta daerah.
Mereka datang dengan biaya sendiri, namun tetap membawa nama besar Pemerintah Daerah Kabupaten MBD. Di level provinsi, para atlet muda ini membuktikan satu hal: keterbatasan bukan alasan untuk kalah.
Keberhasilan ini tak lepas dari dukungan berbagai pihak. Orang tua menjadi fondasi utama, disusul kontribusi materiil dari sejumlah anggota dewan asal MBD seperti Jhon Laipeny, Ayub Imlabla, dan Corneles Lokwaty. Dukungan juga mengalir dari keluarga besar RILMAWONERA—Paulus Untajana, Minggus Rumahlewang, dan lainnya—serta Ketua Umum DPP PEMASKEBAR, Bob Mosse.
Di balik gemilangnya prestasi ini, ada sentuhan tangan dingin dua pelatih, Yanfandry Rumahlewang dan Melkis Rumlaklak, yang berhasil menempa para atlet muda ini menjadi kompetitor tangguh dalam waktu singkat.
Adapun 19 atlet yang mengharumkan nama Rumahlewang Besar yakni:
Marvel Yelira, Maicel Relmasira, Ridolf Teurupun, Armelo Kaya, Pice Reskir, Miguel Hatuey, Andris Rumahlewang, Jakson Takil, Juanito Relmasira, Khalvin Rumakety, Jason Rumahlewang, Vicky Rumahjara, Albert Rumahlewang, Ridolop Rumahlewang, Yuanita Koupun, Marsya Orno, Salomi Koupun, Patresya Rumahlewang, dan Yosina Letlora.
Ini bukan sekadar kemenangan. Ini adalah pesan keras: bahwa potensi di wilayah terluar seperti MBD tidak bisa lagi dipandang sebelah mata.
Jika hari ini mereka bisa bersinar dengan biaya sendiri, pertanyaannya sederhana:
di mana peran negara saat anak-anak daerah berjuang mengharumkan nama daerahnya?
Prestasi ini layak diapresiasi, tapi lebih dari itu—harus menjadi alarm bagi pemangku kebijakan. Karena di balik 12 emas dan 5 perak, ada cerita tentang ketimpangan, perjuangan, dan harapan yang belum sepenuhnya dijawab.
Maluku punya bakat. Tinggal kemauan untuk serius mengelolanya. (MIM-MDO)







