
MALUKUINDOMEDIA.COM, ARU— Pemerintah Kabupaten Kepulauan Aru terus mendorong pembangunan berbasis desa dengan sentuhan budaya dan pelayanan publik. Hal ini ditandai dengan peresmian rumah adat dan kantor desa di Kecamatan Aru Selatan, Kamis (10/4/2026).
Kegiatan yang dipusatkan di Desa Kalar Kalar dan Desa Marafenfen ini menjadi simbol kuat komitmen pemerintah dalam memperkuat ketahanan sosial, ekonomi, serta pelestarian nilai-nilai adat di tengah masyarakat.
Rombongan Bupati Kepulauan Aru bertolak dari Dobo sekitar pukul 11.30 WIT menggunakan speed boat milik pemerintah daerah dan tiba di Desa Kalar Kalar pukul 13.00 WIT. Kedatangan disambut meriah oleh masyarakat dengan prosesi adat di tengah laut menggunakan perahu hias janur, dilanjutkan penjemputan, pemasangan selendang, hingga tarian adat yang sarat makna budaya.
Dalam sambutannya, Bupati menegaskan bahwa pembangunan rumah adat bukan sekadar proyek fisik, melainkan representasi jati diri masyarakat.
“Rumah adat adalah simbol persatuan, tempat musyawarah, dan wujud penghormatan terhadap nilai-nilai leluhur yang diwariskan turun-temurun,” tegasnya.
Selain itu, peresmian kantor desa juga menjadi bagian penting dalam menghadirkan pelayanan publik yang lebih dekat dan responsif. Gedung tersebut diharapkan menjadi pusat aktivitas masyarakat dalam menyampaikan aspirasi, berdiskusi, serta mencari solusi atas berbagai persoalan desa.
“Ini adalah rumah besar masyarakat. Tempat pelayanan, inovasi, dan pusat pembangunan desa,” lanjutnya.
Kegiatan kemudian dilanjutkan ke Desa Marafenfen yang ditempuh sekitar 45 menit perjalanan laut. Di desa ini, rombongan kembali disambut dengan ritual adat dan tarian tradisional sebelum melaksanakan agenda peresmian.
Momentum tersebut juga dimanfaatkan untuk penyerahan bantuan dari Dinas Pertanian kepada kelompok tani, sebagai bagian dari penguatan ketahanan pangan dan peningkatan ekonomi masyarakat desa.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut unsur Forkopimda, anggota DPRD, Komandan Lanudal, pimpinan OPD, Camat Aru Selatan, tokoh agama, tokoh adat, serta masyarakat setempat.
Sementara itu, agenda on the spot yang direncanakan hingga Desa Popjetur terpaksa dibatasi hanya sampai Pangkalan Lanudal TNI AL akibat keterbatasan waktu dan kondisi medan yang tidak memungkinkan.
Rombongan kemudian melanjutkan perjalanan menuju Desa Jerol untuk beristirahat sebelum kembali ke Dobo pada Jumat (11/4/2026) pagi melalui Pelabuhan Jerol.
Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman dan lancar, mencerminkan sinergi kuat antara pemerintah dan masyarakat dalam membangun desa yang mandiri, berbudaya, dan sejahtera. (MIM-MDO)







