
MALUKU INDOMEDIA.COM, AMBON– Ketua Dewan Penasehat Senior GMKI, Febry Calvin Tetelepta (FCT), menghadiri Pertemuan Raya Senior GMKI Cabang Ambon yang digelar di Golden Palace Hotel, Sabtu (21/2/2026). Forum ini menjadi ruang strategis mempertemukan pemerintah, akademisi, dan para senior lintas generasi dalam membedah masa depan Kota Ambon dan Maluku.
Dalam sesi penanggap, FCT menyoroti paparan Walikota Ambon Bodewin M. Wattimena soal tata kelola sampah. Ia mendorong langkah teknis konkret: pemilahan dan pencacahan sampah organik sebelum sampai ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS).
“Kalau organik dicacah lebih dulu, volumenya turun signifikan. Bisa jadi pakan ternak. Tidak perlu lagi semua diangkut ke TPA. Ini soal kemauan sistem dan disiplin pengelolaan,” tegasnya.
FCT mengungkapkan pengalamannya studi dua tahun di Dubai serta pembelajaran di Amsterdam tentang pengelolaan limbah modern. Di sana, sampah bukan beban, melainkan bahan bakar pembangkit energi. Bahkan, Amsterdam mengimpor sampah dari negara lain untuk menjaga suplai energi fasilitasnya.
“Ambon tidak boleh terus memandang sampah sebagai masalah. Sampah bisa jadi energi dan nilai ekonomi, asal dikelola terintegrasi,” ujarnya.
Persoalan Ambon Adalah Persoalan Maluku
Lebih jauh, FCT menekankan bahwa persoalan Ambon kini telah melampaui batas administratif kota. Ambon, katanya, telah menjadi simpul ekonomi, pendidikan, dan kesehatan Maluku. Namun, ketidaksiapan SDM, kapasitas fiskal, dan ketimpangan daerah menjadi beban serius.
Dengan PAD sekitar Rp200 miliar, Ambon menghadapi tekanan pembangunan yang tidak ringan. “Beban sosial, ekonomi, ekologi, dan kewilayahan makin kompleks. Ambon tidak bisa melihat masalahnya sendiri. Ini sudah jadi masalah Maluku,” kritiknya tajam.
Ia menilai langkah memindahkan Kantor Walikota ke Passo sebagai ide progresif karena menggeser titik pertumbuhan. Namun FCT mengusulkan langkah lebih berani: relokasi jalur fery Galala–Ambon ke Leihitu untuk mengurai kemacetan sekaligus mendorong pusat ekonomi baru di luar kota. Pelabuhan Galala, menurutnya, bisa diarahkan menjadi pelabuhan wisata dalam teluk yang aman saat musim ombak.
“Kalau pertumbuhan digeser, kemacetan terurai. Ambon tidak boleh menanggung semua arus sendiri,” katanya.
Rekayasa Kota dan Keberanian Eksekusi
FCT juga menyinggung konsep Ambon New Port dan pentingnya koordinasi lintas pemerintah. Ia menilai pembangunan Ambon tidak bisa dibebankan pada Walikota semata. Pemerintah Provinsi dan pusat harus mengambil tanggung jawab bersama.
Di sektor jasa dan pariwisata, ia mengkritik lemahnya fasilitas dan tata kelola destinasi. “Natsepa dan Latuhalat itu baru piknik, belum wisata terintegrasi. Wisata harus dari bandara sudah ada informasi, jadwal jelas, fasilitas memadai. Kita jual alam,atraksi dan pengalaman bukan sekadar suvenir,” ujarnya.
Secara visioner, ia bahkan mendorong penataan kawasan padat seperti Batu Merah melalui pembangunan rumah susun sebagai wajah baru kota saat event nasional digelar. “Butuh keberanian. Kota jasa harus ditata modern karena kita tidak punya lahan luas,” tegasnya.
GMKI Harus Transformatif
Sebagai Dewan Penasehat Senior GMKI, FCT menegaskan peran organisasi kader tidak boleh berhenti pada nostalgia. Forum ini, katanya, harus melahirkan gagasan solutif dan keberanian mengawal kebijakan publik.
Pertemuan Raya Senior GMKI Ambon pun mengirim pesan kuat: kolaborasi lintas generasi bukan sekadar seremoni, tetapi momentum merancang Ambon sebagai pusat ekonomi Maluku yang berdaya saing, berbasis inovasi lingkungan, dan ditopang keberanian eksekusi.
Ambon, menurut FCT, hanya akan menjadi kota ideal jika dibangun dengan perspektif Maluku secara utuh—terintegrasi, progresif, dan berani berubah.
Sebagai penegasan sikap dan arah berpikirnya,FCT juga menyampaikan pernyataan tegas mengenai posisi strategis Kota Ambon dalam peta pembangunan nasional.
“Jika ingin naik kelas, Kota Ambon tidak bisa dan tidak boleh lagi menjadikan kabupaten/kota di Provinsi Maluku sebagai benchmark.
Kota Ambon harus berani bersaing dan bersanding dengan kota-kota besar lain di Indonesia.Jadikan kota-kota itu sebagai acuan untuk dikejar,” tutupnya. (MIM-MDO)







