
MALUKU INDOMEDIA.COM, AMBON– Proyek strategis nasional Blok Masela kembali jadi sorotan. Di tengah “lampu hijau” percepatan dari pemerintah pusat, DPD KNPI Maluku justru mengingatkan: investasi raksasa ini bisa menjadi berkah besar—atau bencana ketimpangan baru.
Ketua Bidang SDM dan Energi Terbarukan DPD KNPI Maluku, Wesley Sillano, menegaskan bahwa nilai investasi yang digadang mencapai Rp300 triliun bukan sekadar angka fantastis, melainkan ujian nyata keberpihakan negara terhadap Maluku sebagai daerah penghasil.
Pernyataan ini merespons optimisme Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, terkait komitmen investor asing INPEX Corporation dalam menggarap proyek tersebut.
Namun, bagi KNPI Maluku, euforia investasi tidak boleh menutupi persoalan mendasar: keadilan.

“Selama ini banyak kebijakan lahir dari ruang-ruang elit tanpa melibatkan rakyat. Ini yang memicu penolakan dan ketidakpercayaan publik,” tegas Wesley.
KNPI menilai pendekatan top-down berisiko besar memicu konflik sosial, terutama jika masyarakat lokal kembali hanya menjadi penonton di tanah sendiri.
Lebih jauh, Wesley juga “menyentil” para pejabat asal Maluku yang kini berada di lingkar kekuasaan pusat. Ia menegaskan bahwa jabatan bukan sekadar simbol, melainkan amanah untuk memperjuangkan kepentingan daerah.
“Keberanian membela rakyat adalah ukuran sejati, bukan sekadar posisi,” ujarnya tajam.
KNPI Maluku mengajukan tuntutan konkret:
Wajib serapan tenaga kerja lokal, Keterlibatan nyata pengusaha daerah, Program pendidikan dan pelatihan berbasis industri, Transparansi pembagian manfaat ekonomi
Bagi KNPI, pertanyaan paling mendasar dari proyek Masela adalah sederhana namun krusial: seberapa besar rakyat Maluku benar-benar merasakan manfaatnya?
“Berapa persen kembali ke rakyat? Berapa anak daerah yang bekerja? Berapa UMKM yang tumbuh?” lontar Wesley.
Di titik ini, Blok Masela disebut berada di persimpangan: antara menjadi mesin kebangkitan ekonomi atau justru memperdalam jurang ketimpangan.
KNPI Maluku memastikan, generasi muda tidak akan tinggal diam.
“Pemuda Maluku tidak anti investasi. Tapi kami menolak ketidakadilan. Masela harus menjadi milik rakyat, bukan segelintir elit,” tutup Wesley dengan nada tegas. (MIM-CR)






