
MALUKU INDOMEDIA.COM, MALUKU TENGGARA — Aksi cepat jajaran Polres Maluku Tenggara akhirnya membuahkan hasil. Dua terduga pelaku pembunuhan berinisial E.N dan O.H berhasil diringkus aparat pada Senin (30/3), pasca bentrokan berdarah antar warga di Desa Danar yang menewaskan seorang pemuda.
Penangkapan ini dikonfirmasi langsung Kapolres Malra, AKBP Rian Suhendi, S.Pt., SIK dalam keterangan pers yang diterima Maluku Indomedia, Selasa (31/3/2026) malam, didampingi Kasat Reskrim AKP Barry Talabessy.
Peristiwa tragis ini berakar dari konflik antara warga Desa Danar Ohoitom dan Danar Ternate (Watansoin), Kecamatan Kei Kecil Timur Selatan. Ketegangan mulai memuncak sejak Kamis (26/3) malam sekitar pukul 23.00 WIT, ketika kedua kelompok terlibat aksi saling serang menggunakan batu dan senjata tajam. Meski sempat diredam aparat, bara konflik rupanya belum padam.
Memasuki Jumat (27/3) dini hari sekitar pukul 04.00 WIT, situasi kembali meledak. Dalam suasana mencekam, kedua pelaku diduga membawa parang dan bertemu dengan korban berinisial F.A.R. Tanpa ampun, korban langsung diserang secara brutal hingga tersungkur bersimbah darah.

Warga yang menemukan korban dalam kondisi kritis segera melarikannya ke RS Karel Satsuitubun Langgur. Namun nahas, nyawa korban tak tertolong.
Tak butuh waktu lama, Satreskrim Polres Malra bergerak cepat melakukan penyelidikan intensif. Hasilnya, kedua pelaku berhasil diamankan di salah satu rumah warga dan langsung digelandang ke Mapolres untuk proses hukum lebih lanjut.
Polisi kini menetapkan E.N dan O.H sebagai tersangka kasus pembunuhan dan penganiayaan secara bersama-sama yang menyebabkan kematian. Keduanya dijerat dengan pasal berlapis dalam KUHP Nasional dengan ancaman hukuman maksimal hingga 15 tahun penjara.
Kapolres Malra menegaskan, pihaknya tidak akan memberi ruang bagi pelaku kekerasan di wilayah hukumnya.
“Kami berkomitmen menindak tegas setiap tindakan kriminal. Masyarakat diimbau menahan diri dan tidak mudah terprovokasi isu-isu yang belum tentu benar,” tegasnya.
Peristiwa ini menjadi pengingat keras bahwa konflik horizontal yang dibiarkan dapat berubah menjadi tragedi mematikan. Stabilitas keamanan di Maluku Tenggara kini menjadi taruhan, dan peran masyarakat sangat dibutuhkan untuk meredam potensi konflik lanjutan. (MIM-YL)






