
MALUKU INDOMEDIA.COM, AMBON– Target Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar Rp5,2 miliar dari aktivitas perdagangan di Pasar Mardika kini menuai sorotan tajam. DPD KNPI Maluku menilai angka tersebut tidak berpijak pada realitas di lapangan, bahkan berpotensi menjadi “ilusi fiskal” yang jauh dari capaian nyata.
Sorotan ini muncul setelah fakta menunjukkan bahwa tingkat keterisian pedagang di dalam gedung pasar masih sangat rendah. Dari kebutuhan ideal sekitar 1.000 pedagang, baru sekitar 150 yang aktif—atau hanya 15 persen.
Ketua Bidang Koperasi dan UMKM DPD KNPI Maluku, Jamaludin Mahulette, menegaskan bahwa persoalan ini bukan sekadar soal target yang meleset, melainkan kesalahan mendasar dalam perencanaan.
“Target Rp5,2 miliar itu mensyaratkan sekitar 1.000 pedagang aktif. Sementara realitasnya jauh dari itu. Ini bukan hanya tidak tercapai, tapi sejak awal sudah tidak realistis,” tegasnya.
Ekosistem Mati, Target Dipaksa Hidup
KNPI melihat problem utama Pasar Mardika bukan pada angka, tetapi pada gagalnya pembentukan ekosistem perdagangan di dalam pasar. Aktivitas ekonomi justru tumbuh di luar area gedung, sementara bagian dalam sepi pengunjung.
Kondisi ini menciptakan ketimpangan: pedagang di dalam pasar dibebani retribusi tanpa jaminan pembeli, sementara pedagang di luar justru menikmati arus transaksi yang lebih hidup.
“Pedagang bukan objek kebijakan. Mereka pelaku ekonomi. Kalau di dalam tidak ada pembeli, wajar mereka memilih bertahan di luar,” ujar Mahulette.

Defisit Rp900 Juta, Alarm Kegagalan Perencanaan
Lebih jauh, KNPI mengungkapkan bahwa kondisi ini telah berdampak pada defisit PAD yang mencapai sekitar Rp900 juta sejak awal tahun. Situasi ini dinilai sebagai konsekuensi langsung dari kebijakan yang tidak berbasis data riil.
KNPI menyebut fenomena ini sebagai bentuk “ilusi fiskal”—di mana target terlihat ambisius di atas kertas, namun tidak memiliki daya capai di lapangan.
Ubah Pendekatan: Hidupkan Pasar, Baru Bicara PAD
Dalam pandangannya, pemerintah daerah perlu mengubah pendekatan. Fokus utama seharusnya bukan mengejar PAD, melainkan menghidupkan kembali aktivitas ekonomi di dalam pasar.
Langkah konkret yang didorong antara lain:
Memberikan insentif bagi pedagang yang masuk ke dalam pasar, Menjamin keamanan dan kebersihan secara nyata, Mengarahkan arus pembeli agar masuk ke dalam gedung, Menata pedagang di luar secara bertahap dan humanis
“Kalau pedagang sudah masuk tapi pembeli tidak diarahkan, kondisi tidak akan berubah. Ini harus dikerjakan bersamaan,” jelasnya.
Jangan Represif, Bangun Kepercayaan
KNPI juga mengingatkan agar pemerintah tidak menggunakan pendekatan represif dalam menertibkan pedagang di luar pasar tanpa solusi yang layak. Langkah seperti itu justru berisiko menimbulkan resistensi baru.
Menurut Mahulette, indikator keberhasilan seharusnya tidak diukur dari besaran PAD semata, tetapi dari meningkatnya aktivitas ekonomi: jumlah pedagang aktif, kunjungan masyarakat, dan transaksi yang hidup.
“Kalau fondasinya kuat, PAD akan mengikuti. Tapi kalau hanya kejar angka tanpa perbaikan dasar, defisit akan terus berulang,” tegasnya.

Ujian Konsistensi Pemerintah
KNPI menilai pernyataan Kadis Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Maluku sudah mencerminkan pembacaan yang lebih realistis. Namun tantangan sesungguhnya ada pada implementasi di lapangan.
“Ini soal keberanian menyesuaikan kebijakan dengan realitas. Kalau konsisten, Pasar Mardika bisa kembali jadi pusat ekonomi rakyat—bukan sekadar beban target,” tutup Mahulette. (MIM-CR)







