
MALUKU INDOMEDIA.COM, BURU SELATAN— Ketimpangan akses listrik di Desa Saelale, Kabupaten Buru Selatan, memicu keresahan serius di tengah masyarakat. Sebagian warga telah menikmati aliran listrik PLN, sementara sebagian lainnya masih hidup dalam gelap. Kondisi ini tidak hanya memantik kecemburuan sosial, tetapi juga berpotensi memicu konflik terbuka.
Melalui pernyataan yang disampaikan kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Buru Selatan, anggota DPRD kabupaten dan provinsi, DPRD Provinsi Maluku Dapil Buru Selatan, hingga DPR RI, masyarakat Desa Saelale menuntut keadilan distribusi listrik secara menyeluruh.
Pernyataan keras tersebut juga beredar luas di media sosial, salah satunya diunggah oleh akun Ansel JS, yang mengungkapkan bahwa warga menyatakan penolakan keras terhadap pemasangan listrik yang tidak merata. Bahkan, disebutkan adanya ancaman akan membakar gardu PLN jika pemasangan jaringan tidak dilakukan secara adil dan menyeluruh.
“Jika listrik hanya dinikmati sebagian warga, maka ini adalah ketidakadilan. Kami menuntut agar seluruh masyarakat Desa Saelale mendapatkan hak yang sama,” demikian isi pernyataan yang beredar.
Situasi ini menjadi peringatan serius bagi pemerintah daerah dan pihak PLN. Ketimpangan pelayanan dasar seperti listrik bukan sekadar persoalan teknis, tetapi menyentuh langsung rasa keadilan sosial dan stabilitas keamanan masyarakat.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Pemerintah Kabupaten Buru Selatan maupun PLN terkait tuntutan dan ancaman tersebut. Publik kini menanti langkah cepat dan solutif agar persoalan ini tidak berkembang menjadi konflik horizontal yang merugikan semua pihak.
MalukuIndoMedia.com akan terus memantau perkembangan kasus ini sebagai bagian dari komitmen menghadirkan jurnalisme yang berpihak pada kepentingan publik dan keadilan sosial. (MIM-MDO)







