
MALUKU INDOMEDIA.COM, AMBON– Langkah progresif yang diinisiasi oleh Bupati Maluku Tengah dalam mendorong program hilirisasi pertanian di kawasan Teluk Elpaputi menuai apresiasi dari berbagai kalangan. Salah satunya datang dari Darul Kutni Tuhepaly, Ketua Yayasan Salawano Maluku, yang menilai kebijakan ini sebagai bentuk keberpihakan nyata terhadap penguatan ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal. Inisiatif tersebut dinilai bukan sekadar program pembangunan biasa, melainkan arah baru dalam strategi pembangunan daerah.
Teluk Elpaputi dikenal sebagai wilayah dengan potensi kelapa yang melimpah. Namun selama ini, komoditas tersebut lebih banyak dijual dalam bentuk mentah tanpa memberikan nilai tambah yang signifikan bagi petani. Dalam konteks ini, kebijakan hilirisasi menjadi sangat relevan, karena mampu mengubah pola produksi tradisional menjadi sistem ekonomi yang lebih modern dan produktif.
Menurut Darul Kutni Tuhepaly, dorongan terhadap pengembangan tanaman kelapa di wilayah tersebut harus dibarengi dengan sistem pengolahan yang terintegrasi. Target produksi 300 butir kelapa per hari bukan hanya angka ambisius, tetapi juga indikator adanya keseriusan dalam membangun rantai pasok yang efisien dan berkelanjutan. Dengan pendekatan yang tepat, target tersebut sangat memungkinkan untuk dicapai.
Lebih jauh, hilirisasi kelapa membuka peluang besar bagi peningkatan kesejahteraan petani di Kabupaten Maluku Tengah. Dengan adanya proses pengolahan di tingkat lokal, petani tidak lagi hanya menjadi pemasok bahan mentah, tetapi juga bagian dari proses penciptaan nilai tambah. Hal ini tentu akan berdampak langsung pada peningkatan pendapatan masyarakat.
Yayasan Salawano Maluku, di bawah kepemimpinan Darul Kutni Tuhepaly, menyatakan kesiapan untuk turut mendukung keberhasilan program ini. Peran pendampingan kepada petani, penguatan kapasitas sumber daya manusia, hingga pengembangan kelembagaan ekonomi lokal menjadi bagian penting yang akan dikawal secara berkelanjutan.
Meski demikian, tantangan dalam implementasi program ini tidak dapat diabaikan. Ketersediaan infrastruktur, akses terhadap teknologi, serta dukungan pembiayaan menjadi faktor penting yang harus diperhatikan oleh pemerintah daerah. Tanpa itu, hilirisasi berisiko hanya menjadi konsep tanpa realisasi yang optimal di lapangan.
Darul Kutni Tuhepaly juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menyukseskan program ini. Sinergi antara pemerintah, masyarakat, swasta, dan lembaga pendidikan menjadi kunci agar hilirisasi kelapa tidak hanya berjalan, tetapi juga berkembang secara berkelanjutan dan memberikan dampak luas.
Pada akhirnya, apresiasi terhadap langkah Bupati Maluku Tengah bukan sekadar bentuk dukungan, tetapi juga harapan besar akan lahirnya transformasi ekonomi di wilayah tersebut. Hilirisasi kelapa di Teluk Elpaputi diharapkan menjadi tonggak awal menuju kemandirian ekonomi daerah yang lebih kuat, inklusif, dan berdaya saing tinggi.






