
MALUKU INDOMEDIA.COM, AMBON— Program Pascasarjana Universitas Pattimura menggelar kuliah umum bertajuk “Pengembangan Ekonomi Biru dengan Pendekatan Asia (Archipelago Sciences of Indonesia): Some Insights” yang di laksanakan lewat zoom,30/4/2026, menegaskan urgensi transformasi pembangunan berbasis laut di wilayah kepulauan seperti Maluku.
Kegiatan ini secara resmi dibuka oleh Wakil Direktur Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Pascasarjana Unpati, Dominggus Rumahlatu, yang mewakili pimpinan. Dalam sambutannya, ia menyoroti bahwa konsep Ekonomi Biru bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan strategis untuk menjawab tantangan kesejahteraan masyarakat di wilayah pulau kecil.
“Program pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir. Karena itu, ekonomi biru sangat relevan diterapkan di Maluku yang 92 persen wilayahnya adalah laut,” tegasnya.
Ia juga menyinggung sejumlah program prioritas nasional seperti Lumbung Ikan Nasional dan pengembangan kampung nelayan sebagai bentuk konkret implementasi ekonomi biru yang mulai menyentuh daerah.
Maluku: Laboratorium Nyata Ekonomi Biru
Dengan dominasi wilayah laut, Maluku dinilai memiliki peluang besar menjadi pusat pengembangan ekonomi biru di Indonesia. Namun, peluang itu harus diimbangi dengan pendekatan ilmiah, riset terapan, serta keterlibatan aktif masyarakat lokal.
Kuliah umum ini menghadirkan pakar ekonomi kelautan Lucky Adrianto sebagai narasumber utama. Dalam pemaparannya, ia menekankan bahwa Ekonomi Biru harus dipahami secara utuh, tidak hanya sebagai konsep global, tetapi sebagai sistem pembangunan yang kontekstual dengan karakter kepulauan.
“Saya tidak ingin ini sekadar kuliah, tapi ruang berbagi. Kita harus mulai memetakan masalah nyata dan menjadikannya agenda riset bersama,” ujarnya.
Lucky juga memperkenalkan pendekatan Ilmu Kepulauan (Archipelago Sciences) sebagai kerangka berpikir yang mengintegrasikan aspek darat, laut, sosial, hingga budaya dalam satu sistem pembangunan berkelanjutan.
Sasi dan Ilmu Modern: Kolaborasi, Bukan Kompetisi
Diskusi menguat ketika mahasiswa mengangkat praktik konservasi lokal seperti Sasi, yang telah lama hidup dalam masyarakat Maluku. Pertanyaan kritis muncul: apakah pendekatan ilmiah modern akan menggantikan tradisi tersebut?
Menjawab hal itu, Lucky menegaskan bahwa ilmu pengetahuan justru harus memperkuat praktik lokal, bukan menghapusnya.
“Sasi adalah contoh nyata ekonomi biru berbasis kearifan lokal. Tugas akademisi adalah mengintegrasikan dan memperkuat, bukan menggantikan,” tegasnya.
Isu lain seperti sistem pangan pulau kecil, pendekatan transdisipliner, hingga kebutuhan regulasi khusus kepulauan turut menjadi sorotan dalam forum tersebut.
Dorongan Riset dan Akreditasi Akademik
Selain memperluas wawasan, kuliah umum ini juga diarahkan untuk mendorong penguatan kapasitas akademik. Informasi dan perspektif yang diperoleh diharapkan menjadi landasan pengembangan riset, pengabdian masyarakat, hingga peningkatan akreditasi program studi di lingkungan Pascasarjana Unpati.
Dalam penutupnya, Prof. Dominggus menyampaikan harapan agar forum akademik semacam ini tidak berhenti sebagai seremoni, tetapi menjadi pijakan konkret dalam membangun Maluku berbasis potensi laut.
Dengan mengusung semangat kolaborasi, inovasi, dan keberlanjutan, kuliah umum ini menegaskan satu hal: masa depan Maluku ada di laut—dan Ekonomi Biru adalah kunci untuk membukanya. (MIM-MDO)







