
MALUKU INDOMEDIA.COM. MALUKU TENGGARA– Di tengah meningkatnya dinamika sosial yang terjadi di Kepulauan Kei dalam beberapa waktu terakhir, Sekretaris Jenderal Ikatan Mahasiswa Evav Jakarta–Jawa Barat, Fikry Rahayaan, melontarkan sebuah manifesto kepemudaan yang menegaskan pentingnya peran generasi muda sebagai penjaga persatuan, perdamaian, dan masa depan Kabupaten Maluku Tenggara.
Dalam tulisan bertajuk Manifesto Kepemudaan Maluku Tenggara, Fikry mengingatkan bahwa masyarakat Kei sejak lama hidup dalam bingkai falsafah Larvul Ngabal dan semangat Ain ni Ain yang menempatkan persaudaraan, keadilan, serta penghormatan terhadap martabat manusia sebagai fondasi utama kehidupan bersama.
Menurutnya, nilai-nilai tersebut kini menghadapi ujian yang semakin kompleks. Konflik antarkampung, sengketa batas wilayah adat, ketegangan antar kelompok pemuda, persoalan sumber daya alam, hingga derasnya arus informasi yang tidak terverifikasi di media sosial menjadi tantangan nyata yang berpotensi menggerus kohesi sosial masyarakat Kei.
“Di era digital, konflik dapat berkembang jauh lebih cepat dibandingkan sebelumnya. Informasi yang belum tentu benar bisa menyebar dalam hitungan menit dan memicu ketegangan sosial. Karena itu pemuda tidak boleh menjadi penonton. Pemuda harus menjadi solusi,” tegasnya.
Fikry menilai, tantangan zaman saat ini tidak hanya datang dari perubahan sosial dan perkembangan teknologi, tetapi juga dari menguatnya sentimen kelompok yang dapat memecah persatuan masyarakat apabila tidak dikelola dengan bijak.
Karena itu, ia menegaskan bahwa menjadi pemuda Kei hari ini bukan sekadar soal usia muda atau semangat yang menggebu. Lebih dari itu, terdapat tanggung jawab moral dan kultural untuk menjaga persatuan serta memastikan setiap perbedaan tidak berubah menjadi sumber konflik.
“Pemuda harus menjadi jembatan, bukan tembok. Menjadi ruang dialog, bukan ruang pertikaian. Menjadi penggerak kolaborasi, bukan pemantik perpecahan,” tulisnya.
KNPI Dituntut Bertransformasi
Dalam manifestonya, Fikry juga menyoroti peran strategis Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Maluku Tenggara yang menurutnya harus bertransformasi menjadi lebih dari sekadar organisasi kepemudaan.
Ia menegaskan bahwa KNPI harus menjadi rumah bersama seluruh pemuda Kei tanpa membedakan latar belakang kampung, agama, organisasi, status sosial maupun afiliasi politik.
KNPI, kata dia, harus hadir sebagai ruang perjumpaan gagasan, ruang rekonsiliasi sosial, sekaligus laboratorium inovasi yang mampu melahirkan solusi atas berbagai persoalan masyarakat.
Pernyataan ini sekaligus menjadi kritik halus terhadap kecenderungan sebagian organisasi kepemudaan yang sering kali hanya aktif menjelang momentum politik, namun minim kontribusi ketika masyarakat menghadapi persoalan sosial yang membutuhkan pendampingan dan mediasi.
Fikri Tamher Dinilai Relevan Memimpin
Dalam konteks tersebut, Fikry secara terbuka menyebut nama Fikri Tamher sebagai figur yang dinilai memiliki relevansi untuk mendorong lahirnya gerakan kepemudaan yang lebih inklusif, responsif, dan bertanggung jawab.
Menurutnya, kepemimpinan pemuda harus diukur dari kemampuan merangkul perbedaan, mendengar aspirasi masyarakat, membangun dialog, dan menghadirkan solusi atas persoalan yang dihadapi warga.
“Pemimpin muda bukan yang paling keras berbicara atau paling besar pengaruhnya. Pemimpin sejati adalah mereka yang mampu menyatukan, mendamaikan, dan menggerakkan energi kolektif untuk kepentingan bersama,” tulisnya.
Alarm Sosial untuk Generasi Muda Kei
Manifesto ini pada dasarnya merupakan alarm sosial bagi generasi muda Kei agar tidak terjebak dalam rivalitas sempit yang justru mengancam masa depan daerah.
Di tengah berbagai tantangan pembangunan, persaingan ekonomi, serta perubahan sosial yang terus berlangsung, persatuan masyarakat menjadi modal utama yang tidak boleh hilang.
Tanpa kepercayaan sosial, pembangunan akan kehilangan fondasi. Tanpa persaudaraan, kemajuan hanya menjadi angka-angka statistik yang rapuh.
Karena itu, seruan yang disampaikan Fikry bukan sekadar pesan moral, melainkan ajakan untuk menghidupkan kembali semangat Ain ni Ain sebagai etika sosial yang mampu menjawab tantangan zaman.
“Pemuda yang menjaga persaudaraan adalah pemuda yang menjaga masa depan. Dari semangat Ain ni Ain, kita bangun Maluku Tenggara yang damai, inklusif, maju, dan bermartabat,” tutupnya. (MIM-MDO)





