
MALUKU INDOMEDIA.COM, SBB— Pemulihan masyarakat Desa Patahuwe, Kecamatan Taniwel, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), memasuki babak baru. Di tengah upaya membangun kembali kehidupan warga terdampak, peletakan batu pertama pembangunan Pastori Jemaat GPM Patahuwe dan rumah bantuan masyarakat menjadi simbol dimulainya proses pemulihan secara nyata.
Kegiatan tersebut berlangsung di Gedung Gereja Imanuel Desa Patahuwe, Minggu (20/9/2026), dan dihadiri unsur pemerintah, TNI-Polri, Gereja, DPRD, serta tokoh masyarakat.
Kapolres SBB AKBP Refindo Pradipta Rulando, S.I.K., M.A.P., C.L.M.A., menegaskan bahwa pemulihan Patahuwe bukan hanya menyangkut pembangunan fisik, tetapi juga mengembalikan rasa aman, kebersamaan dan kepercayaan masyarakat.
“Ini bukan hanya soal membangun rumah, tetapi bagaimana kita bersama-sama membantu masyarakat untuk bangkit dan kembali menjalani kehidupan dengan rasa aman. TNI-Polri akan terus hadir bersama pemerintah, Gereja dan seluruh elemen masyarakat,” ujar Refindo.
Menurutnya, kondisi keamanan yang telah kondusif harus dijaga bersama. Setiap persoalan yang muncul di tengah masyarakat, kata dia, perlu diselesaikan melalui komunikasi dan jalan damai, bukan dengan tindakan yang dapat memperkeruh keadaan.
“Kalau ada persoalan, mari kita bicarakan dan selesaikan dengan baik. Jangan mudah terprovokasi dan jangan mudah percaya terhadap informasi yang belum jelas kebenarannya. Mari kita jaga keamanan ini bersama-sama,” tegasnya.
Membangun Rumah, Memulihkan Kepercayaan
Peletakan batu pertama tersebut menjadi bagian dari langkah bersama untuk membantu masyarakat Patahuwe kembali menata kehidupan setelah situasi yang sebelumnya berdampak terhadap warga dan lingkungan permukiman.
Kapolres memberikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Maluku, Pemerintah Kabupaten SBB, Sinode GPM, TNI, serta seluruh pihak yang telah mengambil bagian dalam proses pemulihan.
Ia menilai, keterlibatan lintas unsur menjadi modal penting agar proses pemulihan tidak berhenti pada pembangunan sarana fisik, tetapi juga memperkuat persaudaraan dan rasa aman masyarakat.
“Sinergitas seperti ini yang harus terus kita bangun. Pemerintah, TNI-Polri, Gereja, tokoh masyarakat dan seluruh warga harus berjalan bersama. Dengan kebersamaan, proses pemulihan dapat berjalan dengan baik,” ungkapnya.
Pesan tersebut menjadi penting di tengah proses pemulihan Patahuwe. Sebab, membangun kembali rumah yang rusak merupakan satu hal, sementara membangun kembali rasa percaya dan ketenangan masyarakat membutuhkan keterlibatan seluruh elemen secara berkelanjutan.
Lintas Elemen Berdiri Bersama untuk Patahuwe
Peletakan batu pertama pembangunan Pastori Jemaat GPM Patahuwe dan rumah bantuan dilakukan secara bersama oleh Wakil Ketua I MPH Sinode GPM Pdt. Ricardo Andriosa Rikumahu, M.Th., perwakilan Gubernur Maluku, Bupati SBB Ir. Asri Arman, M.T., Kapolres SBB AKBP Refindo Pradipta Rulando, S.I.K., M.A.P., C.L.M.A., Dandim 1513/SBB Letkol Inf. Arh. Jaka Putra Dinda, S.H., M.Han., Wakil Bupati SBB Selfinus Kainama, S.Pd., serta Anggota DPRD Provinsi Maluku.
Kegiatan turut dihadiri Wakapolres SBB Kompol Pieter Matahelumual, S.H., M.H., Ketua TP PKK Kabupaten SBB Ny. Yeni Rosbayani Asri, Danyon TP 865 Letkol Inf. Muhammad Joko Chandra Suseno, pimpinan OPD Kabupaten SBB, Forkopimcam Taniwel dan Taniwel Timur, para pimpinan Gereja, Kepala Desa Patahuwe Abdon Latue, serta masyarakat Desa Patahuwe.
Kehadiran berbagai unsur tersebut memperlihatkan bahwa proses pemulihan Patahuwe membutuhkan kerja bersama. Pemerintah hadir melalui kebijakan dan bantuan, TNI-Polri menjaga keamanan, Gereja memperkuat pendampingan sosial-spiritual, sementara masyarakat menjadi bagian utama dalam membangun kembali kehidupan di lingkungannya.
Bagi Patahuwe, batu pertama yang diletakkan bukan sekadar awal pembangunan sebuah bangunan.
Ia menjadi penanda bahwa setelah masa sulit, kehidupan harus kembali ditata—dengan persatuan, komunikasi, keamanan dan komitmen untuk menjaga kedamaian, (MIM-MDO)







