
Kamis 1 Oktober 2026.
Oleh: Bung Tomson (Pengamat Kebijakan Publik)
Target utang di PT SMI: Rp 1,5 Triliun. Yang disetujui: Rp 178 Miliar. Ini bukan angka. Ini rapor kemampuan lobi Gubernur Maluku di tingkat pusat.
Dan rapor ini sangat berbanding terbalik jika kita ingat apa yang dijanjikan saat kampanye.
Masih ingatkah kita semua…?
Saat kampanye Calon Gubernur 2024, dengan gagah di panggung meyakinkan rakyat dengan narasi : “bisa lewat pintu muka, pintu belakang, tembus dapur”.
Kalimat itu yang membuat banyak orang Maluku percaya. kita pikir, akhirnya kita punya Gubernur yang punya kunci Jakarta. Akhirnya APBN, APBD, pinjaman, proyek pusat akan mengalir karena Gubernurnya punya akses pintu muka, pintu belakang, tembus dapur.
Tapi hari ini, kita tahu kebenarannya.
Ternyata, kemampuan lobi Gubernur berbanding terbalik dengan apa yang di ucapkan.
MARI KITA BUKA DATANYA
Janji kampanye:
Pintu muka, pintu belakang, tembus dapur. Artinya kemampuan lobi sangat mulus di pusat.
Janji setelah dilantik:
Pinjaman PT SMI Rp 1,5 Triliun untuk membangun mimpi Maluku. Infrastruktur Batabual di Kabupaten Buru, Jalan Lingkar Ambalau di Buru Selatan yang 20 tahun terputus, Jalan Inamosol di Seram Bagian Barat, ruas Piru-Luhu, Luhu-Iha, Waesala, infrastruktur di Kei Besar Utara, dan pariwisata Maluku.

Lalu apa yang terjadi di Jakarta….?
Pada 28 September 2026, yang ditandatangani hanya Rp 178 miliar.
Kalau benar bisa lewat pintu muka, mengapa proposal Rp 1,5 T ditolak…?
Kalau benar bisa lewat pintu belakang, mengapa hanya diberi 11% saja…?
Kalau benar bisa tembus dapur, mengapa yang keluar dari dapur PT SMI cuma Rp 178 miliar saja ..?
Ternyata narasi “pintu muka, pintu belakang, tembus dapur” itu hanyalah jargon kampanye semata . sebab Saat berhadapan dengan analis serius di PT SMI yang ditanya adalah Debt Service Coverage Ratio, Kapasitas Fiskal Daerah, dan kemampuan bayar. Semua pintu itu ternyata gelap.
INI BUKAN MASALAH TEKNIS, INI MASALAH POLITIK
sebagian publik menganggap, Ini masalah teknis keuangan, plafon utang, aturan Kemenkeu.”
tetapi jika dikaitkan dengan narasi kampanye ( pintu muka- pintu belakang – tembus dapur), seharusnya Semua masalah teknis itu bisa diselesaikan dengan lobi politik. Itulah gunanya Gubernur punya akses pintu muka, pintu belakang dan dapur.
PT SMI adalah BUMN di bawah Menteri Keuangan. Keputusan SMI adalah cermin kepercayaan Menteri Keuangan kepada Gubernur. Dan hari ini cermin itu berkata: “Kami hanya percaya Rp 178 Miliar untuk Maluku. Selebihnya terlalu berisiko”.
Risiko apa…?
Jika Risikonya bahwa proyek Batabual, Ambalau, Inamosol, kei besar itu tidak feasible, bahwa Maluku akan gagal bayar.
Maka Ini adalah tamparan politik paling keras.
PINTU MUKA UNTUK SIAPA..?
Dan di sinilah rakyat harus bertanya dengan jujur.
Jika pintu muka, pintu belakang, tembus dapur itu gagal untuk melobi Rp 1,5 triliun bagi rakyat Maluku, lalu pintu mana yang berhasil..?
Inilah ironi Maluku hari ini.
Kita memilih Gubernur karena dia menyakinkan kita untuk bisa masuk dapur Jakarta, sehingga rakyat menaruh harapan agar bisa membawa pulang kue pembangunan.
Ternyata yang dibawa pulang dari dapur hanya remah-remah Rp 178 miliar yang jauh dari harapan, dan jauh dari kenyataan. (***)







