
MALUKU INDOMEDIA.COM, AMBON— Kinerja ekspor Provinsi Maluku kembali menjadi sorotan tajam nasional. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku mencatat ekspor Maluku pada November 2025 mengalami kontraksi hingga minus 32,50 persen, menjadikannya penurunan tertinggi kedua di Indonesia setelah Aceh.
Nilai ekspor Maluku pada November 2025 hanya mencapai US$ 6,33 juta, merosot tajam dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sebaliknya, impor justru melonjak 30,54 persen dengan nilai mencapai US$ 31,47 juta, memperlebar jurang defisit neraca perdagangan daerah.
Data ini bukan sekadar angka statistik. Ia mencerminkan rapuhnya fondasi ekonomi berbasis produksi dan ekspor di Maluku, di tengah kekayaan sumber daya alam yang melimpah, khususnya sektor perikanan dan kelautan.
“Ketika ekspor anjlok dan impor melonjak, yang melemah bukan hanya angka, tapi daya tahan ekonomi daerah,” ujar seorang pengamat ekonomi regional kepada MalukuIndomedia.com.

Alarm Keras bagi Arah Pembangunan Daerah
Penurunan ekspor hingga dua digit ini menjadi alarm keras bagi pemerintah daerah dan pemangku kepentingan. Ketergantungan pada bahan mentah, minimnya hilirisasi, serta lemahnya akses pasar internasional dinilai sebagai faktor struktural yang belum terselesaikan.
Ironisnya, Maluku yang dikenal sebagai provinsi kepulauan strategis di jalur perdagangan laut internasional, justru belum mampu memaksimalkan posisi geografisnya sebagai kekuatan ekspor.
Bukan Sekadar Statistik, Tapi Soal Masa Depan
MalukuIndomedia.com menilai, situasi ini membutuhkan langkah korektif yang transformatif, bukan sekadar respons administratif. Penguatan industri pengolahan, keberpihakan pada nelayan dan UMKM ekspor, serta diplomasi dagang daerah harus menjadi agenda nyata, bukan wacana.
Jika tidak, Maluku berisiko terus terjebak sebagai pasar impor, bukan pemain ekspor.
Ekspor melemah, impor menguat — pertanyaannya kini sederhana namun mendasar: ke mana arah ekonomi Maluku sedang digerakkan? (MIM-MDO)






