
MALUKU INDOMEDIA.COM, AMBON— Aroma pertarungan politik mulai terasa jelang Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Provinsi Maluku. Di tengah manuver dukungan dan kalkulasi politik antarblok kader, panitia pelaksana menegaskan sikap tegas: seluruh proses harus tunduk pada mekanisme AD/ART dan juklak organisasi. Tidak ada kompromi, dan hanya kader yang memenuhi dukungan minimal 30 persen dari 17 pemilik suara sah yang berhak melangkah ke arena pemilihan ketua.
Dalam keterangan resminya, panitia memastikan bahwa hingga saat ini belum ada calon yang ditetapkan secara resmi. Proses masih berlangsung pada tahap penjaringan, pendaftaran, dan verifikasi bakal calon, sebelum forum paripurna menentukan siapa yang layak menjadi Ketua DPD Partai Golkar Maluku.
“Sampai hari ini mekanisme berjalan sesuai AD/ART dan juklak Musda Partai Golkar — mulai dari penjaringan, pendaftaran, verifikasi hingga penetapan bakal calon. Finalnya nanti di forum Musda atau paripurna,” tegas salah satu panitia pelaksana, Kamis (6/11/2025) di kantor DPD Golkar Maluku.
Panitia juga menekankan syarat utama bagi setiap calon ketua, yakni memperoleh dukungan minimal 30 persen dari total 17 pemilik suara sah. Unsur pemilik suara itu terdiri dari tiga pilar utama partai:
Ormas pendiri dan didirikan Golkar, seperti Kosgoro, Soksi, dan MKGR, Sayap partai dan organisasi perempuan, yakni KPPG dan MPPG, Ormas setara dan badan otonom, termasuk AMPI, Al-Hidayah, Dewan Pertimbangan, dan DPP.
“Dukungan 30 persen itu bukan formalitas, tapi ukuran nyata siapa yang punya basis kader dan legitimasi politik di tubuh partai. Semua akan diverifikasi ketat oleh panitia,” lanjutnya.
Panitia memperingatkan agar tidak ada pihak yang mencoba memanipulasi atau mendahului keputusan resmi partai. Semua proses, ditegaskan, harus transparan, objektif, dan sesuai juklak Musda.
“Siapa pun dia, kalau tidak memenuhi syarat, tidak bisa dipaksakan maju. Semua harus patuh pada juklak Musda dan ketentuan partai. Jangan sampai ada narasi yang menutupi fakta bahwa syarat-syarat belum terpenuhi,” tegasnya lagi.
Meski begitu, panitia menggarisbawahi bahwa Golkar Maluku tetap terbuka bagi setiap kader berpotensi yang ingin berkompetisi secara sehat.
“Golkar partai yang terbuka dan dinamis. Tapi dinamis bukan berarti bebas dari aturan. Semua yang ingin maju wajib memenuhi dukungan minimal 30 persen. Itulah bentuk kedewasaan berpolitik dan penghormatan terhadap mekanisme partai,” ujarnya menambahkan.
Musda Golkar Maluku dijadwalkan dengan agenda strategis, mulai dari pembukaan resmi, pembentukan steering committee, hingga paripurna penetapan ketua terpilih.
“Kami menunggu besok, siapa yang mengambil formulir dan siapa yang mengembalikan. Setelah pembukaan dan pembentukan steering committee, puncaknya nanti di paripurna — di situ akan terlihat siapa yang benar-benar punya legitimasi dan dukungan,” pungkasnya.
Sementara itu, kader senior Golkar Maluku, yang enggan disebutkan namanya, menilai Musda kali ini akan menjadi ajang ujian kepemimpinan dan arah reformasi partai.
“Musda kali ini bukan sekadar soal siapa yang duduk di kursi ketua, tapi apakah Golkar Maluku bisa kembali ke ruh organisasi yang solid, disiplin, dan berorientasi pada kaderisasi. Yang kuat secara dukungan tapi juga bersih dalam proses,” ungkapnya.
Momentum Kebangkitan dan Ujian Konsistensi
Musda Golkar Maluku tahun ini bukan sekadar ritual lima tahunan. Ia adalah momen krusial bagi partai berlambang beringin ini untuk meneguhkan kembali marwah organisasi — bahwa kekuasaan tidak boleh lahir dari intrik, tetapi dari legitimasi kader dan aturan yang dijunjung tinggi.
Di tengah arus perubahan politik nasional, Golkar Maluku ditantang untuk menunjukkan kedewasaan berorganisasi dan kesetiaan pada nilai-nilai partai yang membesarkannya. Figur yang akan lahir dari Musda ini diharapkan bukan sekadar pemimpin administratif, melainkan motor penggerak kebangkitan Golkar Maluku menuju kejayaan sebagaimana masa keemasan partai di daerah ini dulu.
Jika Musda mampu menghasilkan pemimpin berpengalaman, berintegritas, dan dicintai kader, maka publik akan kembali percaya bahwa pohon beringin itu belum tumbang — hanya menunggu angin baru untuk kembali rimbun. (MIM-MDO)







