
MALUKU INDOMEDIA.COM, AMBON— Nada suara tegas Rohalim Boy Sangadji (RBS) di penghujung Musda XI Partai Golkar Maluku menyimpan pesan politik yang tajam dan sarat makna. Meski akhirnya diminta mengundurkan diri dari proses pemilihan Ketua DPD I Partai Golkar Maluku, RBS tetap meninggalkan kesan kuat dengan sikap tegas, elegan, dan penuh makna simbolik.
“Teman-teman saya yang mengumpulkan saya di DPD, jangan coba-coba dibatalkan. Ini cara berpolitik yang sehat — di luar kita bersahabat, tapi di dalam kita selesaikan dengan cara halus,”ujar RBS dengan nada penuh tekanan di hadapan peserta Musda, Minggu (9/11/2025)
Pernyataan tersebut sontak menjadi sorotan politikus dan pengamat.
Kalimat “jangan coba-coba” dianggap sebagai isyarat keras kepada kepemimpinan baru agar tidak menyingkirkan kader-kader loyalis RBS dari struktur DPD.
Namun dalam konteks yang lebih luas, pernyataan itu bukan ancaman, melainkan peringatan moral agar proses rekonsiliasi pasca-Musda dilakukan secara arif dan berkeadilan — merangkul, bukan menyingkirkan.
Di sisi lain, RBS menutup pidatonya dengan nada teduh dan penuh kebesaran jiwa:
“Saya mohon maaf kepada teman-teman pendukung. Saya titipkan kalian kepada Ketua DPD yang baru. Politik bukan soal menang atau kalah, tapi soal menjaga kehormatan dan kebersamaan.”
Sikap itu membuat suasana forum yang sebelumnya tegang menjadi teduh. Banyak kader menilai langkah RBS mundur adalah bentuk kedewasaan politik yang patut dihargai — mundur dengan terhormat tanpa kehilangan wibawa dan loyalitas kader.
Dinamika Musda dan Peta Kekuatan
Meskipun RBS memilih mengundurkan diri, peta dukungan yang telah terbentuk sejak awal memperlihatkan bahwa Umar Ali Lessy (ULE) memang memiliki kekuatan mayoritas yang solid.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya oleh Maluku IndoMedia, barisan ULE sudah kuat di basis-basis strategis DPD II seperti Maluku Tengah, SBT, Maluku Tenggara, Kota Tual, KKT, dan MBD, dengan dukungan penuh dari organisasi sayap partai seperti KPPG, AMPI, AMPG, Al-Hidayah, Satker Ulama, dan MDI, serta unsur DPD Golkar Provinsi dan Dewan Pertimbangan.
Sementara itu, RBS hanya mampu mempertahankan dukungan di sejumlah wilayah terbatas seperti SBB, Buru, Aru, Buru Selatan, dan Kota Ambon, serta dukungan moral dari SOKSI, Kosgoro, dan MKGR yang secara aturan hanya memiliki satu suara kolektif.
Dengan konfigurasi tersebut, kemenangan ULE sudah dapat terbaca jauh sebelum pleno Musda dimulai.
Karena itu, permintaan agar RBS mengundurkan diri lebih dimaknai sebagai jalan kompromi politik untuk menjaga soliditas partai pasca-Musda, bukan bentuk kekalahan mutlak.
Politik Tegas, Tapi Elegan
Sikap RBS yang memilih mundur secara terhormat justru memperlihatkan kelas kepemimpinan dan loyalitas sejati seorang kader senior.
Ia menolak mempertajam konflik, namun tetap mengirimkan pesan moral bahwa politik balas dendam tidak boleh menjadi warna dalam kepemimpinan baru.
Kalimat “jangan coba-coba” menjadi penanda karakter politik Maluku yang lugas namun penuh etika — menegaskan bahwa loyalitas harus dihormati, dan rekonsiliasi harus menciptakan ruang bagi semua kubu yang telah berproses.
Edisi Publikasi: Pesan Moral Tanpa Polemik
Dari perspektif redaksional, pernyataan RBS ini tidak bisa dibaca sebagai ancaman, melainkan refleksi moral politik yang menggambarkan kedewasaan seorang tokoh.
Ia menyampaikan pesan keras dengan bahasa simbolik, namun substansinya adalah ajakan untuk menjaga keutuhan partai.
Sikap demikian memperlihatkan bahwa RBS tidak menentang hasil Musda, tetapi menegaskan pentingnya menghormati loyalitas kader yang telah berjuang bersama.
Pendekatan politik seperti ini justru dapat memperkuat upaya rekonsiliasi yang kini menjadi tanggung jawab Umar Ali Lessy (ULE) sebagai Ketua DPD Golkar Maluku terpilih.
Kemenangan Umar Ali Lessy (ULE) menandai babak baru bagi Golkar Maluku — sebuah momentum transisi dari konflik menuju konsolidasi.
Namun pesan moral dari RBS tidak boleh diabaikan:
Partai tidak boleh kehilangan nilai kekeluargaan dan penghargaan terhadap pengabdian kader.
Rekonsiliasi yang diinginkan pasca-Musda hanya akan bermakna jika kepemimpinan baru mampu merangkul, bukan menyingkirkan.
Dan itulah ujian sejati bagi Golkar Maluku — apakah kemenangan ini akan melahirkan pembaharuan, atau justru memperdalam luka lama. (MIM-MDO)







