
MALUKU INDOMEDIA.COM, AMBON— Kesabaran warga Arbes, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, akhirnya habis. Senin (siang), puluhan warga menggelar aksi blokade jalan raya sebagai bentuk protes keras terhadap tumpukan sampah yang tak kunjung diangkut selama empat bulan terakhir.
Aksi ini sempat diwarnai adu mulut antara peserta aksi dengan aparat kepolisian. Ketegangan terjadi saat warga menolak membuka barikade sebelum tuntutan mereka direspons langsung oleh Pemerintah Kota Ambon.
Blokade tersebut menyebabkan akses lalu lintas dari pusat Kota Ambon menuju Arbes tertutup total, memicu kemacetan panjang dan mengganggu aktivitas warga lainnya.
Adu Mulut Warnai Aksi
Situasi memanas ketika Wakapolresta Ambon, AKBP Nur Rahman, terlibat adu argumen dengan koordinator aksi Peduli Sampah. Warga bersikeras bahwa penutupan jalan merupakan satu-satunya cara agar keluhan mereka didengar pemerintah.
“Ini bukan aksi anarkis, ini jeritan warga,” teriak salah satu peserta aksi.
Sampah Busuk Membentang 200 Meter
Pantauan MalukuIndomedia.com di lokasi menunjukkan, tumpukan sampah berbau menyengat menutup badan jalan hingga sepanjang 200 meter. Sampah rumah tangga bercampur limbah plastik dan ban bekas bahkan menyumbat aliran sungai di kawasan tersebut.
Ironisnya, lokasi ini bukan tempat pembuangan sampah resmi, namun dibiarkan menjadi “TPA liar” tanpa penanganan serius dari Pemkot Ambon.
Kondisi ini tak hanya mengganggu arus lalu lintas, tetapi juga mengancam kesehatan warga. Aroma busuk, belatung, dan genangan air kotor menjadi pemandangan sehari-hari.

Warga: Lingkungan Tak Sehat, Jalan Rusak, Lampu Mati
Koordinator Aksi Peduli Sampah, Erdy Rizal Tualepe, menegaskan bahwa tuntutan warga bukan sekadar soal sampah.
“Kami butuh lingkungan yang sehat dan aman. Jalan di sini rusak dan diperbaiki swadaya oleh warga. Lampu jalan tidak menyala, rawan kecelakaan dan kriminal. Tapi perhatian pemerintah kota hampir tidak ada,” tegas Erdy.
Menurutnya, jalan Arbes merupakan jalur alternatif padat yang setiap hari dilalui masyarakat, namun justru dibiarkan rusak dan dipenuhi sampah.
Empat Bulan Terabaikan
Tokoh masyarakat Arbes, Achmad Salampessy, menyebut tumpukan sampah tersebut merupakan akumulasi pembuangan selama empat bulan tanpa pengangkutan.
“Kami hanya minta perhatian serius. Kalau tidak bisa setiap hari, paling tidak dua atau tiga hari sekali sampah diangkut. Ini sudah menimbulkan polusi luar biasa dan mengganggu arus lalu lintas,” ujarnya.
Tuntutan Warga
Selain meminta pengangkutan sampah secara rutin, warga juga mendesak Pemkot Ambon untuk:
Memperbaiki jalan raya yang rusak, Mengaktifkan kembali lampu penerangan jalan, Menetapkan solusi permanen agar kawasan tersebut tidak dijadikan TPA liar
Warga berharap Wali Kota dan Wakil Wali Kota Ambon tidak lagi menutup mata terhadap persoalan lingkungan yang berdampak langsung pada keselamatan dan kesehatan masyarakat.
Aksi blokade pun menjadi peringatan keras: ketika pemerintah abai, warga memilih bertindak. (MIM-MDO)






