
MALUKU INDOMEDIA.COM, AMBON— Penguatan peran perempuan di akar rumput kembali digelorakan. Wadah Foundation bersama mitra strategisnya menggelar Pelatihan Kepemimpinan dan Manajemen Kelompok bagi penggerak Dasawisma di Kampung Rinjani, Desa Batu Merah, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon.
Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, 28–30 April 2026 ini bukan sekadar pelatihan biasa. Di baliknya, tersimpan agenda besar: menyiapkan Kampung Rinjani sebagai model nyata pemberdayaan berbasis komunitas yang lahir dari kekuatan perempuan.
Kolaborasi antara Yayasan Wadah Titian Harapan, Yayasan Samaluku Hiti Nusa, serta Forum Pelajar dan Pemuda Titian Harapan Kota Ambon menjadi bukti bahwa perubahan sosial tidak bisa berjalan sendiri. Sinergi lintas elemen ini menegaskan satu hal—perempuan bukan hanya pelengkap, tetapi penggerak utama dalam pembangunan sosial di tingkat komunitas.
Selama ini, Kampung Rinjani telah menjadi wilayah binaan yang terus didorong tumbuh secara mandiri. Pendampingan berkelanjutan yang dilakukan Wadah Foundation perlahan membentuk ekosistem sosial yang hidup, di mana inisiatif warga menjadi kekuatan utama perubahan.
Dalam pelatihan tersebut, para ibu Dasawisma dibekali kemampuan kepemimpinan inklusif, strategi pengelolaan kelompok yang efektif, hingga keterampilan komunikasi yang relevan dengan realitas di lapangan. Materi yang diberikan tidak bersifat teoritis semata, melainkan disusun kontekstual—menyentuh langsung persoalan yang dihadapi perempuan di lingkungan mereka.
Tak hanya transfer ilmu, ruang ini juga menjadi wadah refleksi. Para peserta saling berbagi pengalaman, memperkuat solidaritas, sekaligus membuka peluang kolaborasi antar kelompok. Dari ruang sederhana inilah, fondasi gerakan sosial dibangun—kuat, terarah, dan berkelanjutan.
Fasilitator kegiatan, Zakiyah Shamal, menegaskan bahwa gerakan ini tidak boleh berhenti pada seremoni. “Gerakan ini harus terus dibangun secara lintas sektor, agar semua misi bersama tetap digerakkan bersama,” tegasnya.
Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa pemberdayaan perempuan di Ambon mulai bergerak ke arah yang lebih sistematis dan terukur. Jika konsistensi ini terjaga, bukan tidak mungkin Kampung Rinjani akan menjadi role model bagi kampung-kampung lain di Maluku.
Di tengah berbagai tantangan sosial, satu pesan yang mengemuka: ketika perempuan diperkuat, komunitas tidak hanya bertahan—tetapi bertumbuh dan berdaya. (MIM-CN)







