
MALUKU INDOMEDIA.COM, AMBON— Dinamika kontestasi menuju Musyawarah Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kota Ambon mulai memunculkan berbagai gagasan segar dari para kandidat calon ketua umum. Di tengah persaingan tersebut, nama Basyir Tuhepaly Putra Saparua mencuri perhatian lewat konsep gerakan yang dinilai lebih membumi, progresif, dan dekat dengan kebutuhan masyarakat.
Kader asal Saparua, Kabupaten Maluku Tengah itu hadir membawa dua gagasan utama bertajuk “IMM Biking Bae Ambon” dan “Baku Bantu Kasih Bae Ambon”. Dua program ini disebut menjadi arah baru gerakan IMM yang tidak hanya fokus pada diskusi internal organisasi, tetapi juga menghadirkan aksi sosial nyata di tengah masyarakat.
Basyir menilai, organisasi mahasiswa saat ini sedang menghadapi tantangan serius. Banyak organisasi dinilai kehilangan arah perjuangan sosial dan terjebak dalam rutinitas formalitas tanpa dampak konkret bagi rakyat.
“Mahasiswa tidak boleh hanya sibuk berbicara di ruang diskusi. Organisasi harus hadir di tengah masyarakat, mendengar keresahan rakyat, lalu menjadi bagian dari solusi,” tegas Basyir dalam keterangannya, Kamis (1/5/2026).
Menurutnya, IMM Kota Ambon harus tampil sebagai organisasi yang mampu menjawab kebutuhan zaman. Karena itu, ia menawarkan konsep gerakan yang bertumpu pada tiga prinsip utama, yakni menjadi mitra kritis, mitra solutif, dan mitra kolaboratif.
Sebagai mitra kritis, IMM harus tetap menjaga idealisme serta menjalankan fungsi kontrol sosial terhadap kebijakan publik. Sementara sebagai mitra solutif, IMM dituntut mampu menghadirkan program nyata yang menyentuh kebutuhan masyarakat secara langsung.
Tidak hanya itu, Basyir juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas kelompok pemuda, mahasiswa, dan masyarakat sipil demi membangun perubahan sosial yang lebih luas di Kota Ambon.
Meski membawa semangat pembaruan, Basyir memastikan nilai-nilai dasar IMM tetap menjadi fondasi perjuangan. Ia menegaskan bahwa gerakan keislaman, kemuhammadiyahan, dan kebangsaan harus tetap menjadi identitas utama organisasi.
“IMM tidak boleh kehilangan arah ideologinya. Kita harus tetap menjadi organisasi kader yang membawa semangat Islam berkemajuan dan keberpihakan sosial,” ujarnya.
Munculnya enam kandidat dalam Musyawarah Cabang IMM Kota Ambon juga menunjukkan bahwa organisasi tersebut masih memiliki pengaruh besar di kalangan mahasiswa. Kontestasi ide yang berkembang dinilai menjadi bukti bahwa IMM tetap menjadi ruang kaderisasi intelektual yang diperhitungkan dalam dinamika gerakan mahasiswa di Maluku, khususnya Kota Ambon.
Di tengah situasi sosial yang terus berubah, figur seperti Basyir dinilai hadir membawa warna baru dalam gerakan mahasiswa. Ia tidak hanya menawarkan kepemimpinan organisatoris, tetapi juga mendorong IMM agar lebih relevan dengan realitas sosial masyarakat.
Musyawarah Cabang IMM Kota Ambon kali ini dipandang bukan sekadar ajang perebutan kursi kepemimpinan, melainkan momentum menentukan arah baru gerakan mahasiswa Islam di Kota Ambon.
Dengan mengusung semangat “Biking Bae Ambon” dan “Baku Bantu Kasih Bae Ambon”, Basyir Tuhepaly Putra Saparua mencoba mengirim pesan kuat bahwa organisasi mahasiswa harus tetap tajam dalam kritik, nyata dalam aksi, dan terbuka dalam kolaborasi sosial. (MIM-CN)






