
MALUKU INDOMEDIA.COM, AMBON — Tekanan harga kebutuhan masyarakat kembali menjadi perhatian di Maluku. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku mencatat inflasi bulanan pada Agustus 2026 sebesar 0,81 persen, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya.
Secara tahunan, inflasi Maluku mencapai 3,68 persen, sementara inflasi tahun kalender Januari–Agustus 2026 berada pada level 2,91 persen.
Kenaikan harga pada Agustus terutama dipengaruhi kelompok makanan, minuman dan tembakau, yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi bulanan, yakni 0,63 persen, dengan tingkat inflasi kelompok sebesar 1,76 persen.
Sejumlah komoditas pangan tercatat menjadi penyumbang utama. Kangkung memberikan andil 0,22 persen, kacang panjang 0,14 persen, cabai rawit 0,13 persen, serta ikan layang/momar 0,12 persen.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan inflasi Maluku pada Agustus masih sangat berkaitan dengan pergerakan harga pangan yang sensitif terhadap kondisi pasokan dan cuaca.
BPS mencatat kenaikan harga sejumlah komoditas hortikultura dipengaruhi musim panas yang berdampak terhadap produksi, termasuk kegagalan panen dan kerusakan produk. Di sisi lain, kenaikan harga emas perhiasan turut memberikan tekanan terhadap inflasi.
Menariknya, tidak seluruh komoditas pangan mengalami kenaikan. Harga tomat justru menjadi salah satu penahan inflasi dengan andil deflasi sebesar 0,23 persen.
Maluku Tengah Catat Inflasi Tertinggi
Tekanan harga tidak merata di seluruh wilayah Maluku. Dari tiga wilayah Indeks Harga Konsumen (IHK), Kabupaten Maluku Tengah mencatat inflasi bulanan tertinggi sebesar 1,05 persen.
Inflasi Maluku Tengah secara tahun kalender mencapai 3,22 persen, sedangkan secara tahunan berada pada angka 4,27 persen.
Kenaikan tersebut antara lain dipengaruhi harga kangkung dengan andil 0,54 persen, sawi hijau 0,25 persen, ikan layang 0,20 persen, kacang panjang 0,18 persen dan cabai rawit 0,15 persen.
Sementara Kota Ambon mengalami inflasi 0,77 persen secara bulanan. Inflasi tahunan Ambon tercatat 3,27 persen, dengan sejumlah komoditas seperti kacang panjang, cabai rawit, ikan layang, biaya service kendaraan dan tarif angkutan laut menjadi penyumbang.
Berbeda dengan dua wilayah tersebut, Kota Tual justru mengalami deflasi 0,49 persen pada Agustus 2026. Penurunan harga terutama terjadi pada ikan layang/momar, tarif angkutan udara, ikan tongkol, cabai rawit dan ikan sikuda/lencam.
Namun demikian, Kota Tual masih mencatat inflasi tahun kalender tertinggi di antara tiga wilayah IHK, yakni 4,28 persen, dengan inflasi tahunan sebesar 4,08 persen.
Transportasi Ikut Menambah Tekanan
Selain pangan, kelompok transportasi juga memberikan kontribusi terhadap inflasi Maluku.
Kelompok transportasi mengalami inflasi 0,89 persen dengan andil 0,12 persen terhadap inflasi bulanan. Tekanan tersebut antara lain berasal dari tarif angkutan laut, biaya pemeliharaan atau service kendaraan, serta harga mobil.
Berakhirnya kebijakan diskon tarif transportasi selama periode liburan sekolah pada 15 Agustus 2026 turut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi perkembangan harga jasa transportasi.
Sementara itu, penyesuaian harga BBM nonsubsidi oleh Pertamina pada awal Agustus juga menjadi bagian dari dinamika harga sepanjang bulan tersebut. Untuk Pertamax, harga tercatat mengalami penurunan Rp50.
NTP Naik, tetapi Perikanan Tertekan
Di tengah kenaikan harga konsumen, indikator kesejahteraan petani menunjukkan perkembangan berbeda.
BPS mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) Maluku Agustus 2026 sebesar 97,31, naik 2,09 persen dibandingkan Juli yang berada di kisaran 95,32.
Kenaikan NTP didorong oleh peningkatan indeks harga yang diterima petani sebesar 1,54 persen menjadi 124,70, sementara indeks harga yang dibayar petani turun 0,54 persen menjadi 128,15.
Subsektor hortikultura mencatat kenaikan NTP paling tinggi, yakni 3,90 persen, disusul tanaman perkebunan rakyat sebesar 3,22 persen.
Namun, subsektor perikanan justru mengalami penurunan NTP sebesar 1,52 persen, dengan perikanan tangkap turun 1,67 persen meskipun perikanan budidaya masih tumbuh 0,30 persen.
Komoditas kakao atau biji cokelat, cabai merah dan cabai rawit menjadi sejumlah komoditas yang mendorong kenaikan indeks harga yang diterima petani.
Inflasi Pangan Perlu Jadi Perhatian
Dengan inflasi bulanan sebesar 0,81 persen dan inflasi tahunan 3,68 persen, perkembangan harga pangan menjadi salah satu isu ekonomi yang perlu mendapat perhatian pemerintah daerah.
Kangkung, kacang panjang, cabai dan ikan yang menjadi penyumbang utama menunjukkan bahwa stabilitas harga di Maluku sangat dipengaruhi oleh ketersediaan pasokan pangan lokal, kondisi produksi serta kelancaran distribusi antardaerah.
Perbedaan yang cukup lebar antara inflasi Maluku Tengah, Ambon dan deflasi di Tual juga memperlihatkan bahwa tekanan harga di Maluku tidak seragam.
Kondisi ini menjadi penting untuk dicermati, terutama dalam menjaga keterjangkauan harga kebutuhan pokok dan daya beli masyarakat, sekaligus memastikan pasokan pangan tetap tersedia di tengah perubahan cuaca dan biaya distribusi. (MIM-MDO)







