
MALUKU INDOMEDIA.COM, SBB— Dampak konflik yang melibatkan masyarakat Desa Patahuwe dan Desa Lisabata, Kecamatan Taniwel, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), tidak hanya meninggalkan kerugian material akibat sejumlah rumah warga terbakar. Konflik juga berpotensi mengganggu keberlangsungan pendidikan anak-anak dari keluarga terdampak.
Perhatian khusus terhadap sektor pendidikan tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal (Sekjend) Saka Mese Nusa Student Association, Muslim Azhari Saleh Lussy, Sabtu (12/9/2026).
Ia meminta Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten SBB tidak hanya berfokus pada pemulihan fisik dan pembangunan kembali rumah warga yang terdampak, tetapi juga memastikan masa depan pendidikan anak-anak korban konflik, termasuk mahasiswa asal Patahuwe.
Menurutnya, mahasiswa yang berasal dari keluarga terdampak konflik menghadapi beban yang tidak ringan. Kehilangan tempat tinggal maupun harta benda dapat memengaruhi kemampuan keluarga dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk biaya pendidikan, tempat tinggal mahasiswa, serta kebutuhan akademik lainnya.
“Pemda perlu mengambil langkah nyata untuk memastikan mahasiswa Patahuwe yang terdampak konflik tetap dapat melanjutkan pendidikan dan tidak terhambat oleh kondisi ekonomi keluarga pascakonflik,” ujarnya.
Muslim menyebutkan, bentuk perhatian tersebut dapat diwujudkan melalui beasiswa khusus, bantuan biaya pendidikan, dukungan kebutuhan hidup mahasiswa, maupun skema bantuan lainnya yang disesuaikan dengan kondisi keluarga korban.
Ia menilai perhatian terhadap mahasiswa Patahuwe merupakan investasi penting bagi masa depan daerah. Mereka adalah bagian dari generasi muda yang kelak diharapkan dapat kembali berkontribusi dalam pembangunan Kabupaten SBB.

“Jangan sampai kondisi pascakonflik membuat mahasiswa terpaksa berhenti kuliah hanya karena persoalan ekonomi,” tegasnya.
Selain mahasiswa, Pemda SBB juga diminta melakukan pendataan terhadap pelajar dan anak-anak dari keluarga korban konflik. Pendataan dinilai penting agar intervensi pemerintah dapat diberikan secara tepat sasaran, transparan, dan berkelanjutan.
Muslim menegaskan, pemulihan pascakonflik seharusnya tidak berhenti pada pembangunan kembali rumah dan fasilitas yang rusak. Pemulihan harus menyentuh aspek sosial, ekonomi, pendidikan, serta masa depan generasi muda.
“Membangun kembali rumah adalah kebutuhan. Tetapi membangun kembali masa depan generasi muda adalah tanggung jawab bersama,” katanya.
Karena itu, ia berharap pendidikan anak-anak dan mahasiswa dari keluarga terdampak konflik, khususnya mahasiswa asal Patahuwe, dapat masuk dalam prioritas kebijakan Pemda SBB dalam proses pemulihan masyarakat pascakonflik. (MIM-CN)






