
MALUKU INDOMEDIA.COM AMBON — Musyawarah Daerah (Musda) DPD Partai Demokrat Provinsi Maluku yang dijadwalkan berlangsung November 2026 diharapkan tidak sekadar menjadi forum pergantian atau penetapan kepemimpinan, tetapi juga momentum untuk memperkuat konsolidasi dan kesinambungan kaderisasi partai.
Pandangan tersebut disampaikan Saldi Matdoan, Ketua Mimbar Peradaban Indonesia DPD Maluku, Kamis (1/10/2026).
Sebagai bagian dari keluarga besar Partai Demokrat, Saldi menilai proses kaderisasi yang berlangsung secara berjenjang dari tingkat Dewan Pimpinan Cabang (DPC) hingga Dewan Pimpinan Daerah (DPD) merupakan bagian penting dalam membentuk pengalaman dan kapasitas seorang kader.
Menurutnya, terdapat sejumlah kader yang telah melewati perjalanan panjang dalam struktur organisasi Partai Demokrat. Salah satu nama yang disebut adalah Halimun Saulatu, yang dinilai telah menjalani proses pengabdian dan kaderisasi dari tingkat DPC, kemudian dipercaya berada dalam struktur DPD, hingga mengemban amanah sebagai Ketua Fraksi Demokrat DPRD Provinsi Maluku.
“Bagi kami, perjalanan seperti ini menunjukkan bahwa kepemimpinan dalam partai idealnya tumbuh melalui proses, pengalaman, dan kepercayaan yang dibangun bersama kader serta struktur organisasi,” ujar Saldi.
Ia menegaskan, pihaknya tetap menghormati mekanisme serta kewenangan internal Partai Demokrat dalam menentukan arah organisasi, termasuk dalam proses Musda.
Namun demikian, Saldi berharap pengalaman dan rekam proses kader yang telah berkontribusi dari tingkat DPC hingga DPD dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam pembahasan dan pengambilan keputusan terkait kepemimpinan Partai Demokrat Maluku ke depan.
“Halimun Saulatu, dengan pengalaman yang dimilikinya di tingkat DPC, DPD maupun legislatif, tentu merupakan salah satu kader yang memiliki kapasitas untuk turut menyampaikan gagasan dan menawarkan visi bagi kemajuan Partai Demokrat Maluku,” katanya.
Saldi berpandangan bahwa kepemimpinan dalam organisasi politik tidak semata-mata berkaitan dengan posisi, tetapi juga menyangkut proses panjang, pengalaman, kepercayaan, serta kemampuan menjaga kebersamaan.
Karena itu, menurutnya, kader yang telah tumbuh bersama partai dan melewati berbagai tahapan organisasi memiliki pengalaman yang patut didengar dalam dinamika Musda.
“Pada akhirnya, kepemimpinan adalah soal proses, pengalaman, kepercayaan dan kemampuan menjaga kebersamaan. Kader yang telah tumbuh bersama partai tentu memiliki cerita dan pengalaman yang patut didengar,” tegasnya.
Ia berharap Musda DPD Partai Demokrat Provinsi Maluku pada November mendatang dapat berlangsung dalam suasana kekeluargaan dan tetap berpedoman pada mekanisme organisasi.
Lebih dari sekadar menentukan arah kepemimpinan, Musda diharapkan mampu menjadi ruang konsolidasi seluruh elemen partai untuk menjaga soliditas dan memastikan seluruh kader tetap berjalan bersama dalam menghadapi agenda politik serta organisasi ke depan. (MIM-CN)







