
MALUKU INDOMEDIA.COM, AMBON— Di tengah sorotan terhadap kepercayaan publik, ketimpangan sosial, dan melemahnya daya kritis generasi muda, kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dituntut tidak sekadar menjadi penonton. Mereka harus hadir sebagai penjaga nilai kebangsaan, pengawal akal sehat, dan benteng moral bangsa.
Pesan tegas itu disampaikan Sekretaris Umum Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Kota Ambon, Mansyur Tomagola, saat secara resmi membuka kegiatan Darul Arqam Dasar (DAD) IMM Komisariat Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon, Jumat (9/10/2026).
Dalam sambutannya, Mansyur menegaskan, Darul Arqam Dasar tidak boleh dipandang sebatas agenda formal untuk merekrut anggota baru. Lebih dari itu, DAD merupakan ruang ideologis untuk menempa karakter, memperkuat kesadaran kritis, serta membangun keberpihakan kader terhadap persoalan umat dan bangsa.
Menurutnya, kaderisasi IMM harus mampu melahirkan mahasiswa yang tidak hanya memahami identitas organisasinya, tetapi juga berani membaca realitas sosial, mengkritisi ketidakadilan, dan mengambil peran dalam menjaga kehidupan demokrasi serta nilai-nilai kebangsaan.
“Di saat negara sedang tidak baik-baik saja, spirit IMM harus hadir untuk menjaga nilai-nilai kebangsaan. Kader IMM tidak boleh apatis, tidak boleh hanya menjadi penonton. Kita harus menjadi penjaga akal sehat dan penjaga moral bangsa,” tegas Mansyur di hadapan puluhan peserta DAD.
Tri Logi IMM Harus Menjadi Kompas Gerakan
Mansyur mengingatkan bahwa Trilogi IMM, yakni religiusitas, intelektualitas, dan humanitas, bukan sekadar slogan organisasi yang dihafal dalam forum kaderisasi. Ketiga nilai tersebut harus menjadi landasan berpikir, bersikap, dan bertindak dalam menghadapi berbagai persoalan masyarakat.
Religiusitas, menurutnya, harus melahirkan integritas dan tanggung jawab moral. Intelektualitas mesti membentuk keberanian berpikir kritis dan objektif, sedangkan humanitas harus menumbuhkan kepekaan terhadap penderitaan masyarakat serta keberanian membela nilai-nilai kemanusiaan.
Ia juga menyoroti posisi strategis kader IMM FKIP sebagai calon pendidik. Bagi Mansyur, mahasiswa keguruan memiliki tanggung jawab yang lebih luas daripada sekadar menguasai ilmu pengetahuan dan keterampilan mengajar.
Mereka turut memikul tanggung jawab membentuk karakter generasi masa depan, menanamkan kesadaran kebangsaan, dan membangun keberanian berpikir di tengah berbagai tantangan zaman.
“Guru bukan hanya mengajar, tapi mendidik. Kalau kader IMM yang lahir dari FKIP kehilangan kepekaan kebangsaan, maka kita sedang menyiapkan generasi yang buta terhadap bangsanya sendiri,” ujarnya.
Kaderisasi Harus Melahirkan Gerakan, Bukan Sekadar Identitas
Kegiatan DAD IMM Komisariat FKIP Unpatti tahun ini mengusung semangat revitalisasi gerakan mahasiswa yang kritis, beradab, serta berkomitmen terhadap nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan.
Semangat tersebut menempatkan kaderisasi sebagai fondasi penting untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia dan orientasi gerakan mahasiswa. Kader yang dibentuk tidak cukup hanya loyal terhadap organisasi, tetapi juga harus mampu mempertanggungjawabkan sikap dan perjuangannya di ruang publik.
PC IMM Kota Ambon berharap, melalui proses DAD ini, lahir kader-kader yang militan, berintegritas, serta memiliki keberanian intelektual untuk merespons persoalan sosial dan kebangsaan.
Pada akhirnya, keberhasilan kaderisasi tidak hanya diukur dari jumlah anggota baru yang bergabung, tetapi juga dari sejauh mana nilai-nilai IMM hidup dalam tindakan nyata para kader.
Bagi IMM, religiusitas harus tercermin dalam moralitas, intelektualitas harus tampak dalam ketajaman berpikir, dan humanitas harus dibuktikan melalui keberpihakan terhadap kemanusiaan.
Sebab, ketika mahasiswa memilih diam di tengah persoalan bangsa, ruang kritik akan semakin menyempit. Sebaliknya, ketika kader mampu berpikir jernih, bersikap berani, dan bertindak dengan tanggung jawab, gerakan mahasiswa tetap memiliki tempat penting dalam menjaga masa depan Indonesia. (MIM-CN)




