
MALUKU INDOMEDIA.COM, AMBON— Di tengah perubahan gaya hidup masyarakat modern yang semakin menjauh dari kebiasaan dan tradisi lokal, Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku (GPM) Cabang Imanuel, Ranting Genesis, menghadirkan Festival Genesis Volume III sebagai ruang untuk menghidupkan kembali budaya Maluku, mempererat persaudaraan lintas agama, sekaligus mengembangkan potensi generasi muda.
Mengusung tema “Beta Pung Gaya, Toma Deng Budaya”, festival ini tidak sekadar menjadi panggung hiburan dan pertunjukan seni, tetapi juga menjadi upaya nyata untuk memperkenalkan kembali identitas budaya Maluku kepada generasi muda dan masyarakat luas.
Ketua Angkatan Muda GPM Cabang Imanuel Ranting Genesis, Roland Tuanakotta, menjelaskan bahwa festival tersebut berangkat dari keprihatinan terhadap semakin berkurangnya kebiasaan masyarakat dalam mengenal dan mempraktikkan budaya lokal dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, sejumlah kebiasaan yang dahulu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, seperti makan bersama di meja makan, kini mulai tergeser oleh pola hidup modern. Begitu pula dengan berbagai peralatan tradisional yang semakin jarang dijumpai dan dikenali oleh generasi muda.
“Melalui festival ini, katong ingin memperkenalkan kembali budaya Maluku. Ada alat-alat tradisional yang mungkin sudah jarang dilihat orang, sehingga katong tampilkan lagi supaya generasi muda bisa mengenal dan mengetahui warisan budaya sendiri,” ungkap Roland, Sabtu (10/10/2026)
Selain menampilkan berbagai unsur budaya lokal, Festival Genesis juga menghadirkan pertunjukan Cakalele, tarian tradisional Maluku yang menjadi salah satu daya tarik kegiatan tersebut. Pertunjukan ini diharapkan dapat memperkuat kebanggaan generasi muda terhadap kekayaan seni dan tradisi daerah.
Bukan Sekadar Kegiatan Gerejawi, tetapi Ruang Toleransi
Salah satu pesan penting yang ingin disampaikan melalui Festival Genesis Volume III adalah bahwa organisasi kepemudaan gereja dapat menjadi ruang terbuka bagi semua kalangan, tanpa dibatasi perbedaan agama maupun latar belakang.
Roland menegaskan, keterlibatan masyarakat di luar lingkungan gereja, termasuk pemuda Muslim, merupakan bagian dari semangat toleransi dan kebersamaan yang ingin dibangun melalui kegiatan tersebut.
“Kegiatan ini bukan cuma untuk angkatan muda gereja. Katong ingin membangun silaturahmi dan kerja sama, serta menunjukkan bahwa ruang kepemudaan terbuka bagi semua orang. Ini juga bentuk toleransi yang ingin katong tunjukkan,” jelasnya.
Keterlibatan lintas komunitas tersebut menjadi pesan bahwa kerukunan di Maluku tidak cukup hanya dibicarakan, tetapi perlu diwujudkan melalui perjumpaan, kolaborasi, dan kegiatan bersama yang memberi manfaat bagi masyarakat.
Perluas Kolaborasi Antarranting dan Cabang
Festival Genesis yang pada awalnya difokuskan untuk memperkenalkan bakat dan minat anggota Ranting Genesis, kini berkembang menjadi wadah kolaborasi yang lebih luas.
Pada pelaksanaan Volume III, panitia mulai membuka ruang partisipasi bagi ranting-ranting lain di Cabang Imanuel maupun pemuda dari cabang lain yang turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut.
Perluasan partisipasi ini diharapkan mampu memperkuat hubungan antarpemuda, mendorong pertukaran kreativitas, serta menjadi inspirasi bagi ranting-ranting lain untuk menghadirkan kegiatan serupa.
Festival ini juga menjadi kesempatan bagi generasi muda untuk menunjukkan kemampuan, mengasah bakat, dan memperoleh apresiasi melalui berbagai aktivitas seni dan kreativitas.
Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kreatif
Tidak hanya berorientasi pada pelestarian budaya, Festival Genesis Volume III turut membawa harapan bagi pertumbuhan ekonomi kreatif di lingkungan sekitar.
Melalui perpaduan pertunjukan budaya, kreativitas generasi muda, dan kolaborasi berbagai pihak, kegiatan ini diharapkan dapat membuka peluang bagi masyarakat untuk terlibat dalam aktivitas produktif serta mengembangkan potensi ekonomi berbasis kreativitas.
Dukungan pengurus, peserta, seniman, warga jemaat, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam menyukseskan kegiatan tersebut.
Panitia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah bekerja keras dan memberikan dukungan bagi penyelenggaraan festival.
Budaya Harus Dihidupkan, Bukan Sekadar Dipertontonkan
Festival Genesis Volume III menghadirkan pesan yang lebih luas daripada sekadar perayaan seni dan budaya. Di tengah modernisasi, tantangan terbesar bukan hanya bagaimana menampilkan kembali tradisi, tetapi bagaimana membuat generasi muda mau mengenal, mencintai, dan meneruskannya dalam kehidupan sehari-hari.
Budaya Maluku tidak boleh berhenti sebagai pertunjukan di atas panggung atau menjadi kenangan tentang kebiasaan masa lalu. Budaya harus tetap hidup melalui keluarga, pergaulan, kreativitas, dan interaksi sosial masyarakat.
Melalui tema “Beta Pung Gaya, Toma Deng Budaya”, Angkatan Muda GPM Ranting Genesis mengajak generasi muda untuk tetap mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan akar identitasnya.
Festival ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya, toleransi antarumat beragama, dan penguatan ekonomi kreatif dapat berjalan beriringan ketika generasi muda diberi ruang untuk berkarya dan berkolaborasi. (MIM-MDO)




