
MALUKU INDOMEDIA.COM, AMBON— Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) bukan sekadar persoalan lingkungan dan jarak pandang. Di balik udara yang tercemar, terdapat ancaman serius terhadap kesehatan pernapasan masyarakat yang membutuhkan perhatian dan langkah perlindungan sejak dini.
Merespons kondisi tersebut, Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Kota Ambon menggelar sosialisasi kesehatan bertajuk “Selamatkan Warga Kota Ambon dari Dampak Kabut Asap Karhutla” di Academia Cafe, Ambon, Selasa (20/10/2026), pukul 19.30 WIT.
Kegiatan yang merupakan kolaborasi PC IMM Kota Ambon bersama Dinas Kesehatan Kota Ambon ini menghadirkan dokter spesialis paru Rumah Sakit dr. J. Leimena Ambon, dr. Reza Fahlefi Amahoru, Sp.P, sebagai narasumber utama.
Dalam pemaparannya, dr. Reza menjelaskan bahwa paparan kabut asap Karhutla dapat menimbulkan gangguan kesehatan, terutama karena kandungan partikel halus PM2.5 yang mampu menembus jauh ke dalam saluran pernapasan hingga mencapai paru-paru.
Kelompok rentan, seperti bayi dan balita, ibu hamil, lanjut usia, serta penderita penyakit paru kronis, termasuk asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), perlu mendapat perhatian khusus karena berisiko mengalami dampak kesehatan yang lebih berat.
“Kabut asap Karhutla bukan sekadar gangguan jarak pandang, tapi ancaman nyata bagi paru-paru. Edukasi perlindungan dini seperti penggunaan masker N95, mengurangi aktivitas luar ruangan saat ISPU tinggi, dan menjaga kebersihan udara dalam ruangan menjadi kunci utama,” ujar dr. Reza di hadapan peserta diskusi.
Ia menekankan pentingnya langkah pencegahan untuk mengurangi paparan asap, terutama ketika kualitas udara memburuk. Penggunaan masker yang sesuai, pembatasan aktivitas di luar ruangan, serta upaya menjaga udara dalam ruangan tetap bersih menjadi bagian penting dari perlindungan kesehatan masyarakat.
IMM Dorong Edukasi Berbasis Ilmu Kedokteran
Ketua PC IMM Kota Ambon, Basyir Tuhepaly, mengapresiasi kehadiran dokter spesialis paru dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, masyarakat membutuhkan informasi yang benar, terukur, dan dapat dipertanggungjawabkan secara medis untuk menghadapi dampak kabut asap.
“Kami sengaja menghadirkan ahli paru langsung dari RS J. Leimena agar sosialisasi ini berbasis ilmu kedokteran, bukan asumsi. Ini komitmen IMM untuk menjaga kesehatan warga,” tegas Basyir.
Selain dr. Reza, kegiatan ini menghadirkan dr. Muhammad Armin Inayat, Kepala Puskesmas Air Besar, Dinas Kesehatan Kota Ambon, sebagai narasumber kedua.
Puluhan kader IMM dan masyarakat umum turut mengikuti diskusi yang mengusung tagline “Jaga Kesehatan, Jaga Kota Kita.”
Perlindungan Warga Tak Boleh Berhenti pada Sosialisasi
Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa penanganan dampak Karhutla tidak cukup hanya berfokus pada pemadaman api. Perlindungan kesehatan masyarakat, pemantauan kualitas udara, penyampaian informasi risiko secara terbuka, serta kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan juga perlu menjadi perhatian bersama.
Edukasi publik merupakan langkah penting, tetapi harus berjalan beriringan dengan tindakan nyata dari pemerintah dan instansi terkait. Masyarakat membutuhkan informasi kualitas udara yang mudah diakses, panduan perlindungan yang jelas, serta respons cepat apabila terjadi peningkatan kasus gangguan pernapasan.
Di tengah ancaman kabut asap, keselamatan warga harus menjadi prioritas. Kolaborasi antara tenaga medis, pemerintah, organisasi mahasiswa, dan masyarakat diharapkan tidak berhenti pada forum diskusi, tetapi berlanjut menjadi gerakan perlindungan kesehatan yang berkelanjutan.
Sebab, ketika udara yang dihirup mulai mengancam kesehatan, menjaga paru-paru warga bukan lagi sekadar pilihan, melainkan tanggung jawab bersama. (MIM-CN)





