
MALUKU INDOMEDIA.COM, SERAM BAGIAN BARAT— Dua hari terombang-ambing di laut akibat mesin perahu rusak dan kabut asap tebal, tiga nelayan asal Dusun Uhua, Desa Buano Utara, Kecamatan Huamual Belakang, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), akhirnya ditemukan selamat oleh tim gabungan Sat Polairud Polres SBB bersama masyarakat, Senin (26/10/2026) malam.
Di antara ketiga korban, terdapat seorang anak berusia 13 tahun yang masih berstatus pelajar sekolah dasar. Peristiwa ini menjadi peringatan serius tentang besarnya risiko keselamatan yang dihadapi nelayan tradisional ketika gangguan teknis perahu bertemu dengan kondisi alam yang membatasi jarak pandang.
Ketiga nelayan ditemukan pada pukul 22.20 WIT di sebuah rompong milik nelayan dari Dusun Lirang, sekitar 20,18 mil laut dari lokasi yang menjadi acuan pencarian. Setelah dievakuasi, tim gabungan tiba di Dusun Uhua pada Selasa (27/10/2026) pukul 00.16 WIT dan menyerahkan para korban kepada keluarga.
Mesin Rusak, Kabut Asap Menghilangkan Arah
Berdasarkan informasi yang dihimpun, kejadian bermula pada Sabtu (24/10/2026) sekitar pukul 08.00 WIT. Ketiga korban bertolak dari Dusun Pele Jaya, Kepulauan Manipa, menggunakan perahu jenis body fiber atau long boat dengan mesin Yamaha berkekuatan 15 PK.
Namun, perjalanan tersebut berubah menjadi situasi darurat ketika busi mesin mengalami kerusakan sehingga mesin tidak dapat dihidupkan kembali. Perahu pun hanyut terbawa arus laut.
Situasi semakin berbahaya ketika kabut asap tebal menghalangi pandangan. Para nelayan kesulitan melihat pulau-pulau di sekitar mereka dan kehilangan orientasi arah selama kurang lebih dua hari.
Dalam kondisi tersebut, ketiganya menemukan sebuah rompong nelayan dan mengikatkan perahu di lokasi itu. Rompong tersebut diketahui milik nelayan dari Dusun Lirang.
Peristiwa ini memperlihatkan bagaimana kerusakan mesin yang tampak sederhana dapat berkembang menjadi keadaan darurat ketika nelayan berada jauh dari daratan dan tidak mampu menentukan arah perjalanan.
Informasi Warga Menjadi Petunjuk Penting Pencarian
Sat Polairud Polres SBB menerima informasi mengenai hilangnya ketiga nelayan pada Minggu (25/10/2026) sekitar pukul 15.00 WIT.
Upaya pencarian kemudian ditingkatkan setelah Kasat Polairud Polres SBB, IPTU Piter N. Souhoka, menerima informasi dari Ahmad Tamalene, warga Desa Buano Utara, pada Senin (26/10/2026) sekitar pukul 20.00 WIT mengenai dugaan lokasi terakhir para korban.
Tim gabungan yang dipimpin IPTU Piter N. Souhoka bersama personel Sat Polairud dan masyarakat segera bergerak menuju lokasi yang dimaksud.
Hasilnya, pada pukul 22.20 WIT, ketiga nelayan berhasil ditemukan dalam keadaan selamat di rompong milik masyarakat Dusun Lirang. Tim selanjutnya melakukan evakuasi sesuai prosedur operasional yang berlaku.
Keberhasilan tersebut menunjukkan pentingnya kecepatan penyampaian informasi, koordinasi petugas, dan keterlibatan masyarakat pesisir dalam menghadapi keadaan darurat di laut.
Kapolres Apresiasi Sinergi Personel dan Masyarakat
Kapolres SBB, AKBP Refindo Pradikta Rulando, S.I.K., M.A.P., C.L.M.A., menyampaikan apresiasi kepada personel Sat Polairud dan masyarakat yang terlibat dalam pencarian hingga ketiga nelayan berhasil ditemukan.
Menurutnya, keberhasilan operasi tersebut merupakan hasil kerja sama dan kepedulian bersama dalam memberikan pertolongan kepada masyarakat yang mengalami musibah di laut.
Kapolres juga mengingatkan nelayan agar tidak mengabaikan aspek keselamatan sebelum memulai perjalanan, terutama ketika menghadapi risiko cuaca buruk, arus laut, gangguan mesin, maupun jarak pandang yang terbatas.
“Keselamatan harus menjadi prioritas utama. Sebelum melaut, pastikan mesin dan perlengkapan perahu dalam kondisi baik. Nelayan juga perlu membawa kompas, GPS, alat komunikasi, serta perlengkapan keselamatan lainnya,” tegasnya.
Ia menambahkan, apabila jarak pandang terganggu akibat kabut asap atau kondisi alam lainnya, nelayan diminta tidak memaksakan perjalanan dan mengutamakan tindakan yang dapat menjaga keselamatan.
Kapolres turut mengimbau nelayan agar menyampaikan tujuan perjalanan serta perkiraan waktu kembali kepada keluarga. Langkah tersebut penting untuk mempercepat pelaporan dan penanganan apabila terjadi keadaan darurat.
Tiga Korban Diserahkan kepada Keluarga
Ketiga nelayan yang ditemukan selamat tersebut masing-masing adalah Said Ninilouw (56), Ruzilang Ninilouw (57), dan Adian Tuhuteru (13).
Setelah tiba di Dusun Uhua pada Selasa dini hari, ketiganya diserahkan kepada pihak keluarga. Dengan demikian, operasi pencarian dan pertolongan dinyatakan selesai.
Meski berakhir dengan kabar baik, kejadian ini menyisakan pesan penting bagi keselamatan nelayan di wilayah kepulauan Maluku. Laut bukan hanya ruang mencari nafkah, tetapi juga lingkungan dengan risiko yang dapat berubah sewaktu-waktu.
Pemeriksaan mesin sebelum berangkat, ketersediaan alat komunikasi, perlengkapan keselamatan, serta kemampuan menentukan posisi dan arah pelayaran bukan sekadar pelengkap. Semua itu merupakan bagian penting dari upaya mencegah kecelakaan dan mempercepat pertolongan ketika situasi darurat terjadi. (MIM-MDO)







