
MALUKU INDOMEDIA.COM, SORONG— Pertemuan Raya Senior GMKI 2025 yang digelar di Kota Sorong, Papua Barat Daya, menghadirkan momentum reflektif bagi seluruh kader. Dalam kesempatan tersebut, Ketua Umum Pengurus Nasional Perkumpulan Senior GMKI, Febry Calvin Tetelepta, menyampaikan pesan moral yang kuat agar mahasiswa tetap berdiri sebagai penjaga nilai dan tidak terjebak dalam pusaran politik praktis yang sempit.
Berbicara di hadapan peserta dari berbagai daerah, Tetelepta menegaskan bahwa seluruh anak bangsa lahir dari proses dan tradisi yang sama, sehingga memiliki ikatan asal-usul kebangsaan yang sejajar. “Kita semua bertumbuh dalam proses yang sama. Karena itu, setiap orang punya asal yang sama. Dan tugas kita adalah saling membantu,” ujarnya, Rabu (26/11/2025)
Mahasiswa Dinilai Pemilih Paling Rasional
Dalam pidatonya, Tetelepta menyoroti peran strategis mahasiswa sebagai kelompok pemilih yang paling kritis. Namun ia mengingatkan bahwa masih banyak daerah di Indonesia yang menghadapi ketimpangan kebijakan, termasuk dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah.
Ia mengkritisi persoalan di sejumlah provinsi yang menurutnya masih berjuang menghadapi tekanan fiskal dan sektor layanan dasar. “Ini bukan hanya soal keuangan, tapi juga kesehatan. Kita semua tahu posisi banyak pemimpin daerah berada di situasi yang terjepit,” katanya.
Pesan Moral: Keluar dari Jeratan Politik Sempit
Tetelepta menegaskan bahwa tugas para kader GMKI adalah mendorong, mendukung, dan menguatkan para pemimpin publik, bukan sebaliknya ikut larut dalam lingkaran politik yang tidak sehat.
“Tugas kita mendoakan, mendorong, membantu agar keluar dari lingkaran-lingkaran politik yang sempit. GMKI harus menjadi terang, bukan bagian dari masalah,” tandasnya.
Tantangan Kebijakan Daerah
Dalam bagian lain pidatonya, Tetelepta menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak boleh “main-main” dalam merumuskan kebijakan strategis, apalagi ketika menyangkut pemangkasan kewenangan atau trase daerah yang dapat berdampak besar bagi masyarakat.
Menurutnya, kabupaten/kota dengan jumlah penduduk di bawah batas tertentu semakin rentan bila kebijakan pusat tidak memperhatikan kondisi sosial-ekonomi di wilayah timur Indonesia. “Negara tidak bisa main-main, terutama bagi wilayah yang masih berjuang membangun diri,” ujarnya.
Budaya Papua: Kekayaan yang Tidak Boleh Disembunyikan
Dalam sesi reflektif, Tetelepta mengajak peserta menghargai tradisi luhur Papua yang menurutnya memiliki nilai kemanusiaan dan persatuan yang kuat. Ia menyinggung ragam budaya di Raja Ampat, Jayapura, hingga Manokwari sebagai kekayaan yang harus dilindungi.
Apresiasi kepada Pemerintah dan DPRD
Tetelepta juga menyampaikan apresiasi terhadap dukungan pemerintah, termasuk kebijakan pendidikan dan beasiswa bagi mahasiswa. Ia menambahkan penghargaan kepada seluruh Senior yang telah mengawal program kerja selama dua periode.
“Semakin hari keberhasilan kita semakin baik. Tetaplah bekerja dengan dasar nilai dan iman. Tuhan menjaga perjalanan kita,” ungkapnya menutup sambutan. (MIM-MDO)







