
MALUKU INDOMEDIA.COM, AMBON— Di tengah arus perubahan sosial dan tantangan zaman, Gereja Protestan Maluku (GPM) kembali menegaskan misinya: menjadi gereja yang hidup, bekerja, dan bersuara di tengah realitas umat. Nada itu menggema kuat dari dua pemimpin Sinode terpilih periode 2025–2030, Pdt. S. I. Sapulete, M.Si (Ketua Sinode) dan Pdt. R. Rikumahu, M.Th (Wakil Ketua I), yang sama-sama menyoroti pentingnya transformasi pelayanan dan kehadiran sosial gereja.
Inovasi Pelayanan dan Penguatan Spiritualitas
Dalam arah pelayanannya, Pdt. Sapulete menegaskan bahwa gereja perlu melangkah lebih jauh dari sekadar menjaga kesinambungan pelayanan.
“Kita ingin pelayanan gereja ke depan tidak hanya memastikan keberlanjutan pencapaian, tetapi juga menghadirkan inovasi dan pengembangan pelayanan yang benar-benar menyentuh warga jemaat,” ujarnya.
Ia menyebut bahwa fokus pelayanan Sinode ke depan adalah penguatan karakter spiritualitas di tengah tantangan zaman, serta memastikan Majelis Pekerja Harian (MPH) Sinode GPM mampu bekerja responsif terhadap harapan umat, para pelayan, dan masyarakat luas di Maluku dan Maluku Utara.
“Gereja harus hadir, bekerja, dan bersuara bersama masyarakat. Pelayanan kita bukan hanya untuk gereja sendiri, tetapi untuk kehidupan bersama sebagai bangsa,” tambahnya.
“Gereja Tak Boleh Hidup di Ruang Hampa”
Sementara itu, Wakil Ketua I Sinode GPM, Pdt. R. Rikumahu, M.Th, menegaskan pentingnya gereja yang tanggap dan solid, tidak hanya secara internal, tetapi juga dalam keterlibatannya di tengah masyarakat.
“Kita bukan gereja yang hidup di ruang hampa. Kita hidup di tengah masyarakat, dan di sanalah iman gereja harus dibuktikan,” tegasnya.
“Harapan masyarakat terhadap gereja adalah agar gereja melakukan sesuatu yang nyata. Ketika masyarakat merasa terlayani oleh gereja, di situlah misi Kristus benar-benar hidup.”
Rikumahu menilai hasil pembentukan Majelis Pekerja Harian Sinode GPM 2025–2030 merupakan buah pergumulan panjang antara jemaat, para pelayan, dan masyarakat, mencerminkan gereja yang inklusif dan partisipatif.
“Kalau gereja hanya hidup untuk dirinya sendiri, itu yang tidak kita inginkan. Gereja harus menjadi gereja bagi semua orang — bagi dunia yang menantikan harapan,” ujarnya menutup.
Momentum Pembaruan Gereja
Kepemimpinan baru Sinode GPM 2025–2030 menjadi momentum pembaruan dan harapan, untuk meneguhkan gereja sebagai kekuatan moral, sosial, dan spiritual di tengah kehidupan masyarakat.
Dengan arah pelayanan yang kreatif, responsif, dan transformatif, GPM diharapkan tampil sebagai gereja yang menginspirasi dan meneguhkan, tidak hanya di rumah ibadah, tetapi juga dalam denyut kehidupan bersama. (MIM-MDO)





