
Oleh: Adinda Putri Ramadhani Uar
(Kader PMII Komisariat UIN AM Sangadji Ambon )
Rumah Perjuanganku, Aku Lahir dari proses panjang menuju Perempuan Pergerakan Aku Cinta KOPRI ku, Aku akan terus belajar bersaama rumahku ini,
Tangan Terkepal Maju Kemuka.
1. Pesta Perayaan Persaudaraan, Bukan Perebutan Kekuasaan
Di tengah Suksesi PKC KOPRI PMII Maluku dan hiruk pikuk dinamika organisasi mahasiswa perempuan tangan terkepal menjelma menjadi momentum yang berbeda. Ia tidak hadir sebagai panggung perebutan kekuasaan atau sekadar formalitas rotasi kepengurusan. Lebih dari itu, suksesi Konkorcab VIII PKC PMII dan KOPRI PMII Maluku ke- 8 tahun 2025 kali ini adalah perayaan persaudaraan, ajang meneguhkan semangat guyub dan riang gembira dalam bingkai kebersamaan kader perempuan PMII se-Maluku.
Guyub dan riang gembira bukan sekadar jargon seremonial. Ia adalah nilai yang tumbuh dari akar pergerakan, dari tradisi panjang kader KOPRI di Maluku yang selalu mengutamakan silaturahmi, dialog, dan semangat kolektif ale rasa beta rasa. Dalam setiap diskusi dan forum, terlihat bagaimana para kader perempuan datang dengan niat baik, saling menyapa tanpa sekat, dan membangun percakapan yang sehat demi masa depan KOPRI PMII Maluku yang lebih inklusif dan berdaya menata kaderisasi kedepanya. Di tengah suasana munculnya kader-kader perempuan PMII Maluku yang cerdas, inovatif kini menjadikan momentum Konkorcab ke- 8 Kopri PMII Maluku hari ini sebagai sesuatu yang semakin langka dalam kehidupan organisasi moderen bagi perempuan. Ketulusan untuk berbagi gagasan tanpa pamrih, untuk saling mendengar tanpa prasangka, dan untuk menempatkan kepentingan organisasi di atas kepentingan pribadi. Suksesi ini, dengan segala dinamikanya, menjadi ruang refleksi bagi kader perempuan PMII Maluku. Ia mengingatkan kita bahwa kepemimpinan bukan tentang siapa yang berkuasa, tetapi siapa yang siap berkorban dan melayani.
2. KOPRI: Dari Gerakan Perempuan Menuju Kepemimpinan Nilai
KOPRI (Korps PMII Putri) bukan sekadar badan otonom. Ia adalah rumah nilai, tempat kader perempuan PMII ditempa dengan kesadaran sosial, keilmuan, dan spiritualitas pergerakan. Dalam perjalanan sejarahnya, KOPRI selalu menjadi ruang di mana perempuan belajar memimpin dengan hati — bukan untuk menguasai, tetapi untuk menumbuhkan. Perempuan KOPRI adalah simbol keberanian melawan stereotip. Mereka berdiri tegak di tengah ruang publik yang sering bias gender, menghadirkan wajah Islam yang ramah, inklusif, dan humanis. Dalam setiap langkahnya, mereka mengingatkan kita bahwa keadilan gender bukan semata isu struktural, tetapi panggilan nurani.
Suksesi PKC KOPRI Maluku tahun ini menjadi bukti bahwa kaderisasi telah menumbuhkan generasi baru perempuan-perempuan PMII yang percaya diri, cerdas, dan progresif. Mereka tidak lagi berada di pinggir forum, tetapi menjadi bagian utama dari diskursus kebangsaan, sosial, dan keislaman sekaligus penentu arah dan masa depan negeri. Kehadiran kader perempuan di ruang-ruang strategis PMII dan masyarakat menegaskan bahwa KOPRI bukan pelengkap, melainkan kekuatan moral dan intelektual yang menopang eksistensi PMII itu sendiri. Dari Ambon, semangat itu menyala. Dari ruang-ruang diskusi, dari obrolan ringan di sela forum, tempat ngopi dan kampus-kampus, hingga ceplas ceplosnya kandidat yang menggugah di panggung pembukaan Konkorcab Aula Kanwil Agama Maluku, semua menggambarkan bahwa perempuan KOPRI PMII Maluku telah matang dalam kesadaran berorganisasi. Mereka tidak hanya berbicara tentang hak, tetapi juga tanggung jawab. Mereka tidak hanya menuntut ruang, tetapi menciptakan ruang.
3. Guyub dan Riang Gembira: Etika Baru Gerakan
Guyub dan riang gembira menjadi roh baru dalam gerakan KOPRI PMII Maluku. Di tengah tren organisasi yang sering terjebak dalam politik kepentingan, KOPRI memilih jalan kebersamaan. Mereka menyadari bahwa kekuatan sejati lahir dari persaudaraan, bukan perpecahan. Dalam konteks sosial Maluku yang plural, nilai guyub ini memiliki makna mendalam. Ia menjadi jembatan lintas etnis, agama, dan budaya. Perempuan KOPRI hadir bukan hanya sebagai kader organisasi, tetapi juga duta perdamaian. Mereka membawa misi kemanusiaan — meneguhkan kembali makna “perempuan sebagai rahmat”, bukan beban peradaban. Riang gembira bukan berarti abai terhadap persoalan serius. Justru di balik tawa dan keceriaan, tersimpan tekad besar untuk memperjuangkan nilai-nilai keadilan dan kesetaraan perempuan. Kegembiraan menjadi simbol kedewasaan — bahwa organisasi yang sehat adalah organisasi yang mampu tertawa bersama tanpa kehilangan arah perjuangan.
Melalui semangat ini, KOPRI PMII Maluku mengajarkan bahwa berjuang tidak harus dengan amarah, bahwa memimpin tidak harus dengan otoritas, dan bahwa berorganisasi tidak harus kehilangan sisi kemanusiaan. Inilah etika baru gerakan perempuan: mengubah ruang perjuangan menjadi ruang persaudaraan.
4. Suksesi sebagai Gerbang Peradaban Baru
Suksesi PKC KOPRI PMII Maluku nanti siapapun yang dipercayakan oleh peserta konkorab KOPRI PMII Maluku ke-8, bukan akhir dari perjalanan, melainkan gerbang menuju babak baru. Babak di mana kader perempuan PMII semakin percaya diri melangkah di ruang publik, menyuarakan nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin, dan memperjuangkan keadilan sosial di tengah realitas yang masih timpang. Momentum ini menjadi pengingat bahwa setiap generasi memiliki panggilannya sendiri. Generasi KOPRI hari ini memikul tanggung jawab besar: memastikan bahwa gerakan perempuan PMII tetap berakar pada nilai, berorientasi pada ilmu, dan berpihak pada kemanusiaan.
Tantangan ke depan tentu tidak ringan. Dunia digital membawa arus deras informasi yang dapat menggoyahkan idealisme. Persaingan dan fragmentasi ideologis kian tajam. Namun di tengah itu semua, semangat guyub dan riang gembira menjadi benteng moral yang tak tergoyahkan. Perempuan KOPRI PMII Maluku telah menunjukkan bahwa mereka mampu bersinergi, berpikir strategis, dan bertindak konkret. Mereka bukan hanya menjaga tradisi, tetapi juga membangun inovasi. Mereka tidak hanya meneruskan estafet, tetapi memperluas cakrawala.
5. Dari Ambon, Cahaya Itu Menyala
Dari Ambon, tempat peradaban dan keberagaman bertemu, suara KOPRI menggema: “Kami ada, kami berjuang, dan kami bergembira.” Suara itu bukan hanya gema seremonial, melainkan panggilan sejarah. Kader perempuan PMII Maluku menatap masa depan dengan wajah penuh keyakinan. Bahwa perjuangan ini akan terus hidup selama nilai-nilai kemanusiaan dijaga, selama solidaritas menjadi napas gerakan. Suksesi ini akan melahirkan bukan hanya pemimpin baru, tetapi juga harapan baru — harapan akan KOPRI yang semakin dewasa, berdaya, dan berjiwa pembaharu. Dari ruang-ruang kecil diskusi hingga mimbar besar pergerakan, mereka menulis sejarah dengan tinta ketulusan. Dan ketika kelak sejarah menoleh ke belakang, ia akan mencatat bahwa dari Ambon, di tengah gelombang zaman yang tak menentu, pernah ada sekelompok perempuan muda yang memilih jalan persaudaraan. Mereka tidak menaklukkan dengan kekuasaan, tetapi dengan kasih dan riang gembira.
Itulah makna sejati dari kepemimpinan perempuan PMII kepemimpinan yang lahir dari nurani, tumbuh dari cinta, dan berbuah pada perubahan. Guyub dan riang gembira bukan akhir dari perjalanan. Ia adalah cara kita berjalan menuju masa depan yang lebih terang bersama, berdaya, dan penuh makna.
“ Selamat bertanding sahabat – sahabat pergeraan “. (***)







