
MALUKU INDOMEDIA.COM, MALUKU TENGGARA – Dunia pendidikan di Kabupaten Maluku Tenggara berduka. Di tengah kehilangan atas wafatnya Arianto Tawakal (14), perhatian kini tertuju pada sang kakak, Nasri Karim (15), siswa kelas X yang masih menjalani perawatan intensif di RS Tk.II Prof. Dr. J.A. Latumeten Ambon akibat luka serius dan patah tangan kanan.
Nasri merupakan korban penganiayaan yang diduga melibatkan oknum anggota Brimob Batalyon C Pelopor Satbrimob Polda Maluku di Kota Tual pada Kamis (19/2). Meski dalam kondisi pemulihan, ia tetap hadir sebagai saksi korban dalam sidang kode etik terhadap tersangka Bripda MS di Polda Maluku beberapa hari lalu.
Kepala Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Maluku Tenggara, Ahmad Seknun, menegaskan pihak sekolah mengambil langkah humanis dengan memberi izin penuh hingga siswanya sembuh total.
“Kami sangat prihatin atas musibah yang dialami siswa kami dan adiknya. Semoga almarhum mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan,” ujar Seknun saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (26/2/2026).
Hasil rapat dewan guru memutuskan Nasri diberi izin sampai benar-benar pulih sebelum kembali mengikuti proses belajar mengajar.
“Kesehatan fisik dan mental siswa adalah prioritas. Kami sepakat memberi izin sampai sembuh total,” tegasnya.
Sementara itu, duka mendalam juga dirasakan keluarga besar MTs Maluku Tenggara. Kepala sekolah Amir menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Arianto Tawakal, siswa kelas IX yang dikenal aktif, cerdas, dan berkepribadian baik.
“Kami sangat terpukul. Arianto adalah siswa yang pintar, ramah, dan tidak pernah membuat masalah. Kehilangannya sangat terasa bagi sekolah,” ungkap Amir.
Peristiwa ini menjadi pengingat keras tentang pentingnya perlindungan anak dan jaminan rasa aman bagi generasi muda. Dunia pendidikan di Maluku Tenggara kini bersatu, tidak hanya untuk memulihkan luka, tetapi juga memastikan keadilan berjalan. (MIM-YL)KN:nOO






