
Di tengah gemuruh efisiensi anggaran dan penghematan belanja daerah, sampai2 pemerintah daerah Maluku berencana melakukan pinjaman sebesar 1,5Triliun untuk pembiayaan infrastruktur daerah, tersembunyi sebuah paradoks krisis justru melahirkan kreativitas. Saatnya kita beralih dari wacana penghematan menuju inovasi pencarian sumber pendapatan asli daerah untuk Maluku. didalam perut bumi Kabupaten Seram Bagian Timur, harta karun itu telah tertidur puluhan tahun di bawah kaki kita disana ada 200an sumur minyak tua peninggalan Belanda yang dapat di olah ulang sehingga menjadi produktif dan menghasilkan PAD bagi daerah.
Potensi ini merupakan sebuah peluang nyata yang telah diberikan oleh regulasi. Menteri ESDM telah membuka pintu lebar-lebar melalui kebijakan pemanfaatan sumur tua. Pertanyaannya, siapkah Perusahaan Daerah PT Maluku Energy Abadi (MEA) dan Pemerintah Daerah menyambutnya?
Sumur-sumur tua ini sering kali dilihat sebagai limbah sejarah, bukti eksploitasi masa lalu. Sudah waktunya kita mengubah sudut pandang. Dengan pendekatan re-working atau striping teknik memproduksi kembali sumur tua dengan teknologi modern lubang-lubang bekas bor kolonial ini bisa bertransformasi menjadi “mesin uang” daerah serta pencipta suber energy bagi negara Indonesia.
Data dan pengalaman empiris dari lapangan berbicara lebih keras dari sekadar teori. Di Blora dan Sumatera Selatan, sumur-sumur sejenis telah menjadi tulang punggung ekonomi lokal. Seorang rekan praktisi di bidang ini mengonfirmasi, pendapatan kotor dari satu sumur tua bisa berkisar antara Rp 300 hingga Rp 800 juta per bulan. Bahkan dengan asumsi yang sangat konservatif, dimana produktivitas di Seram Bagian Timur hanya sepertiganya, yaitu Rp 100 juta per sumur per bulan, potensinya masih sangat mencengangkan.

Oleh: Gerard Wakanno
· 200 sumur x Rp 100.000.000/bulan = Rp 20 Miliar per bulan.
· Dalam setahun: Rp 240 Miliar.
Angka sebesar itu dapat menggerakkan roda pembangunan, membiayai kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur di Maluku tanpa terlalu menggantungkan pada transfer pusat. Ini adalah suntikan dana segar yang selama ini kita abaikan.
Jika potensinya sedemikian besar, mengapa ia masih terbengkalai? ayo Management PT MEA segeralah lirik potensi besar ini.
Efisiensi anggaran adalah panggilan bangun bagi para pemangku kepentingan di Maluku. Kita tidak bisa lagi hanya merencanakan di atas kertas. Kepada Management PT MEA. Beranilah berinovasi dan ambil risiko yang terukur. Jadilah pelopor, bukan penonton. Kesempatan ini adalah ujian nyata bagi kapasitas dan integritas Anda.
Momen ini adalah titik balik. Mari kita buktikan kepada dunia bahwa Maluku adalah negeri yang kaya, Maluku tidak perlu miskin serta generasi sekarang tidak perlu membebani generasi mendatang dengan beban hutang yang membebani. Seruan untuk managemen PT MEA waktunya bangkit dan wujudkan “Maluku Energy Abadi” yang sesungguhnya, dan buktikan kami tidak tergantung pada harapan PI 10% yang belum tentu datang dalam waktu cepat. (***)







