
MALUKU INDOMEDIA.COM, LANGGUR— Menjelang Hari Raya Natal 25 Desember 2025 dan Tahun Baru 1 Januari 2026, warga Kota Langgur, Kabupaten Maluku Tenggara (Malra), dihadapkan pada persoalan serius: minyak tanah langka dan harganya melambung jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET).
Sejumlah warga mengaku kesulitan memperoleh minyak tanah untuk kebutuhan pokok rumah tangga seperti memasak, bahkan persiapan membuat kue Natal dan Tahun Baru.
Ibu Rita (32), warga Kompleks Pokarina, Ohoi Langgur, Kecamatan Kei Kecil, kepada MalukuIndomedia.com, Senin (15/12/2025), mengungkapkan bahwa kelangkaan minyak tanah telah berlangsung selama beberapa minggu terakhir.
“Kalau ada pun, harganya sudah tidak masuk akal. HET seharusnya Rp4.000 per liter, tapi di lapangan bisa dua sampai tiga kali lipat,” ungkapnya.
Keluhan serupa disampaikan Ibu Ida (40), warga Ohoi Ohoijang, yang ditemui di Pasar Langgur saat mencari minyak tanah. Ia mengaku telah berkeliling sejak Minggu (14/12/2025) dari Ohoi Faan hingga Watdek, namun seluruh pangkalan kosong.
“Kalau ada pun mahal, tapi terpaksa beli. Saya pakai untuk memasak dan bikin kue Natal,” ujarnya.
Ibu Ida mengaku membeli minyak tanah eceran dengan harga yang sangat tinggi.
“Saya beli satu jerigen isi 5 liter seharga Rp40.000 di Perumnas, lalu Rp35.000 di kompleks Wearsten. Mahal sekali, tapi mau bagaimana,” katanya.
Sementara itu, John R, warga Kompleks Perumahan Guru Kelurahan Ohoijang Watdek, menyampaikan kekecewaannya setelah tiga hari berkeliling mencari minyak tanah tanpa hasil. Ia bahkan terlihat berjalan kaki membawa jerigen kosong di sekitar Stadion Langgur.
“Karena tidak dapat minyak tanah, kami akhirnya cari kayu bakar di hutan sekitar Ohoi Kolser untuk memasak,” tuturnya.
John juga menyoroti praktik penjualan minyak tanah yang dinilai menyimpang. Menurutnya, minyak tanah tidak dijual per liter sesuai HET, melainkan dipaksa dalam bentuk jerigen 5 liter dengan harga Rp20.000 hingga Rp40.000.
“Kasihan warga kecil. Kalau cuma mampu beli dua atau tiga liter, tidak bisa, karena tidak ada yang jual per liter,” kesalnya.
Ia menegaskan bahwa persoalan kelangkaan dan mahalnya minyak tanah bukan hanya terjadi jelang Natal dan Tahun Baru, melainkan sudah berlangsung sepanjang tahun 2025 tanpa penertiban yang jelas.
Atas kondisi ini, warga Maluku Tenggara mendesak Pemerintah Daerah, DPRD, serta Polres Maluku Tenggara untuk segera turun tangan, melakukan pengawasan distribusi, serta menindak tegas pangkalan maupun pengecer nakal yang menjual minyak tanah di luar ketentuan harga.
“Negara harus hadir. Jangan biarkan rakyat kecil menanggung beban akibat permainan distribusi,” tegas salah satu warga.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai penyebab kelangkaan maupun langkah pengendalian harga minyak tanah di Kota Langgur. (MIM-YL)







