
MALUKU INDOMEDIA.COM, DOBO– Malam takbiran di Kabupaten Kepulauan Aru bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi momentum strategis untuk memperkuat persatuan dan membangun semangat kolektif masyarakat. Hal ini ditegaskan Bupati Kepulauan Aru, Timotius Kaidel, saat menghadiri pawai takbiran yang digelar Panitia Hari Besar Islam (PHBI), Jumat malam.
Di tengah gema takbir yang membelah langit Dobo, kehadiran Kaidel menjadi simbol kedekatan pemerintah dengan rakyatnya. Ia tidak hanya hadir sebagai kepala daerah, tetapi sebagai bagian dari masyarakat yang merayakan kemenangan setelah sebulan penuh menjalani Ramadan.
“Idulfitri adalah momentum kemenangan yang harus kita maknai lebih dari sekadar perayaan. Ini saatnya kita memperkuat kebersamaan dan menjadikannya energi untuk membangun daerah yang kita cintai,” tegas Kaidel.
Dalam arahannya, Kaidel menyoroti pentingnya menjaga harmoni sosial di tengah keberagaman. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan pawai takbiran sebagai ruang mempererat silaturahmi, sekaligus membangun komitmen bersama dalam mendorong pembangunan di “negeri mutiara indah cendrawasih lestari”.

Lebih dari itu, Kaidel juga mengingatkan agar euforia takbiran tidak mengabaikan aspek ketertiban dan keamanan. Ia menekankan bahwa perayaan yang tertib mencerminkan kedewasaan masyarakat dalam beragama dan bermasyarakat.
Senada dengan itu, Kapolres Kepulauan Aru, AKBP Albert Perwira Sihite, menegaskan pentingnya menjaga stabilitas keamanan selama perayaan berlangsung. Ia mengajak masyarakat untuk menjadikan takbiran sebagai cerminan Islam yang damai dan penuh toleransi.
“Takbiran ini bukan hanya tradisi, tetapi juga pesan moral tentang kedamaian, kebersamaan, dan tanggung jawab sosial,” ujarnya.
Suasana malam takbiran di Dobo berlangsung khidmat sekaligus semarak. Lantunan takbir, tahmid, dan tahlil menggema, berpadu dengan iringan musik tradisional seperti ukulele dan partisipasi kelompok pemuda, menciptakan nuansa religius yang hangat dan menyatukan.
Momentum ini, menurut banyak pihak, menjadi refleksi bahwa di tengah dinamika sosial dan tantangan pembangunan, semangat kebersamaan tetap menjadi kekuatan utama masyarakat Aru.
Idulfitri tahun ini pun diharapkan tidak berhenti pada seremoni, tetapi menjadi titik tolak lahirnya kesadaran kolektif: bahwa kemajuan daerah hanya bisa dicapai melalui persatuan, toleransi, dan komitmen bersama. (MIM-MDO)






