
MALUKU INDOMEDIA.COM, AMBON— Menjelang arus mudik dan mobilitas masyarakat pada momentum Hari Raya Idul Adha 2026, PT ASDP Indonesia Ferry Persero Cabang Ambon mengerahkan sebanyak 11 armada kapal ferry untuk memastikan pelayanan penyeberangan di wilayah Maluku tetap berjalan aman, lancar, dan terkendali.
Langkah ini menjadi strategi penting di tengah tingginya ketergantungan masyarakat Maluku terhadap transportasi laut sebagai jalur utama konektivitas antar pulau.
General Manager PT ASDP Cabang Ambon, Syamsudin Tannasy, mengatakan empat armada di antaranya difokuskan melayani lintasan Hunimua–Waipirit yang selama ini dikenal sebagai jalur penyeberangan terpadat dan paling vital di Maluku.
“Seluruh armada telah kami siapkan agar dapat beroperasi maksimal selama periode Lebaran Idul Adha. Bila terjadi lonjakan penumpang, frekuensi pelayaran akan kami tingkatkan dari 13 menjadi 17 trip per hari,” ujar Syamsudin saat diwawancarai di ruang kerjanya di Ambon, Senin (18/5/2026).
Lintasan Hunimua–Waipirit sendiri menjadi urat nadi distribusi orang dan barang antara Pulau Ambon dan Seram, sehingga peningkatan kapasitas layanan dinilai krusial untuk mengantisipasi kepadatan penumpang menjelang hari besar keagamaan.
Tak hanya fokus pada jalur utama, ASDP Cabang Ambon juga memastikan operasional sejumlah lintasan strategis lainnya tetap berjalan optimal, di antaranya Galala–Namlea, Waai–Umeputih, Nalahia–Amahai, Tual–Dobo, Dobo–Benjina, hingga Tual–Kaimana yang menjangkau kawasan kepulauan dan daerah terluar.
Menurut Syamsudin, keberadaan layanan ferry di Maluku bukan sekadar transportasi biasa, tetapi menjadi denyut utama penghubung ekonomi, sosial, hingga pelayanan dasar masyarakat di wilayah kepulauan.
“Dengan jaringan lintasan yang luas, kami memastikan armada tetap andal dan beroperasi sesuai jadwal. ASDP berkomitmen menghadirkan layanan merata, termasuk di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) yang menjadi tulang punggung konektivitas antar pulau,” tegasnya.
Di sisi lain, ASDP juga terus mendorong transformasi digital pelayanan melalui aplikasi Ferizy yang memungkinkan masyarakat membeli tiket secara daring sebelum keberangkatan.
Digitalisasi ini dinilai menjadi langkah progresif untuk mengurangi antrean panjang di pelabuhan sekaligus menekan praktik percaloan tiket yang kerap muncul pada musim mudik.
“Kami mengimbau pengguna jasa memastikan tiket telah dibeli sebelum tiba di pelabuhan, dengan data yang sesuai dan valid agar hak-hak penumpang terpenuhi secara maksimal,” katanya.
Kesiapan armada dan modernisasi layanan yang dilakukan ASDP Ambon menunjukkan upaya transformasi transportasi laut di Maluku mulai bergerak menuju sistem yang lebih adaptif, efisien, dan berbasis kebutuhan masyarakat kepulauan.
Di tengah tantangan geografis Maluku yang didominasi laut, pelayanan penyeberangan yang stabil bukan hanya soal mobilitas, tetapi juga menyangkut stabilitas ekonomi dan akses kehidupan masyarakat antar pulau.
“Kami ingin pengguna jasa merasakan transformasi nyata layanan ASDP, baik dari sisi digital, operasional, maupun pelayanan di lapangan,” tutup Syamsudin. (MIM-CN)







