
MALUKU INDOMEDIA.COM, AMBON— Di tengah tantangan sosial dan dinamika kehidupan masyarakat Maluku yang terus bergerak, komitmen sosial kembali ditunjukkan Febry Calvin Tetelepta (FCT). Menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah/2026 Masehi, FCT kembali menyerahkan hewan kurban kepada umat Muslim di Kota Ambon, Minggu (24/5/2026).
Penyerahan hewan kurban berlangsung di pelataran Masjid Raya Al Fatah Ambon dan diterima langsung oleh perwakilan masjid, Dr. Muh. Thaib Hunsuow.
Bagi FCT, kegiatan ini bukan sekadar agenda seremonial tahunan. Lebih dari itu, kurban telah menjadi simbol konsistensi dalam merawat nilai kemanusiaan, toleransi, dan persaudaraan antarumat beragama di Maluku.
“Ini sudah menjadi tradisi saya setiap Hari Raya Idul Adha. Saya selalu menyalurkan hewan kurban ke Masjid Raya Al Fatah Ambon. Ini bentuk komitmen saya dalam merawat nilai-nilai sosial dan kebersamaan di Maluku,” ujar FCT.
Di tengah situasi sosial yang kerap diwarnai polarisasi identitas dan sekat-sekat kepentingan, langkah yang dilakukan FCT dinilai menjadi pesan moral bahwa Maluku dibangun bukan hanya dengan infrastruktur, tetapi juga dengan kekuatan solidaritas sosial dan rasa saling memiliki antarwarga.
FCT menegaskan, Maluku memiliki modal sosial yang kuat untuk terus bertumbuh sebagai daerah yang inklusif dan harmonis. Karena itu, tradisi berbagi dan menjaga hubungan lintas komunitas harus terus dirawat.
“Kalau kita bisa merawat tradisi seperti ini, kita bisa membangun Maluku yang lebih baik. Ini adalah kekuatan kita, modal sosial yang harus dijaga bersama. Dalam membangun Maluku tidak boleh ada sekat agama atau sub-etnis. Kita semua adalah orang Maluku,” tegasnya.
Ia juga mengapresiasi semangat kebersamaan masyarakat yang terus menjaga tradisi berbagi, khususnya momentum Idul Adha yang sarat nilai pengorbanan dan kepedulian sosial.
Menurut FCT, kegiatan sosial seperti penyaluran hewan kurban tidak boleh berhenti pada simbolitas tahunan semata, melainkan harus menjadi gerakan sosial yang diperluas manfaatnya hingga menjangkau masyarakat di 11 kabupaten/kota di Maluku.
Komitmen yang terus dijaga FCT ini sekaligus menjadi penegasan bahwa politik kemanusiaan dan kepedulian sosial masih memiliki ruang penting di tengah kehidupan masyarakat Maluku hari ini. Di saat banyak pihak sibuk membangun pencitraan sesaat, konsistensi berbagi selama bertahun-tahun justru menjadi bahasa sosial yang paling mudah dibaca publik. (MIM-CN)






