
MALUKU INDOMEDIA.COM, AMBON— Kabar kurang menggembirakan datang dari kawasan timur Indonesia. Berdasarkan rilis resmi Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi wilayah Maluku dan Papua hanya mencapai 2,68% pada Kuartal III tahun ini, jauh melambat dibandingkan 3,39% pada Kuartal II.
Penurunan tajam ini menandakan bahwa roda ekonomi di kawasan timur mulai tersendat — terutama akibat lemahnya daya dorong sektor pengolahan, minimnya investasi baru, serta terbatasnya aktivitas perdagangan antardaerah.
Anjloknya Laju Ekonomi Jadi Sinyal Bahaya
Dalam tiga bulan terakhir, sejumlah indikator menunjukkan perlambatan nyata. Sektor pertanian dan perdagangan yang selama ini menjadi penopang utama tumbuh stagnan, sementara industri pengolahan tak banyak berkembang.
Bahkan, kontribusi Maluku–Papua terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional hanya 2,69%, salah satu yang terendah di Indonesia.
“Ini bukan sekadar angka statistik. Ini alarm keras bahwa ekonomi timur Indonesia sedang kehilangan tenaga dorongnya,” ujar Pengamat Kebijkaan Publik dan Politik Maluku Darul Kutni Tuhepally, Kamis (6/11/2025).
Kebutuhan Mendesak: Arah Baru Pembangunan Timur Indonesia
Melihat tren ini, para analis menilai sudah saatnya pemerintah menyiapkan strategi ekonomi yang benar-benar berpihak ke kawasan timur.
Bukan sekadar proyek infrastruktur, tapi juga transformasi ekonomi berbasis sumber daya lokal, hilirisasi industri, dan digitalisasi UMKM agar ekonomi daerah tidak terus tertinggal.
“Kalau dibiarkan, gap pertumbuhan antara timur dan barat Indonesia makin lebar. Maluku dan Papua butuh keberpihakan nyata — bukan janji,” tegas Tuhepally.
Dari 3,39% ke 2,68% bukan sekadar penurunan angka — ini “ancor ekonomi” yang harus segera direspon cepat oleh pemerintah daerah dan pusat.
Ekonomi timur tak bisa terus berjalan di tempat ketika wilayah lain sudah berlari. Saatnya keberpihakan ekonomi diwujudkan, bukan ditunda. (MIM-MDO)






