
MALUKU INDOMEDIA.COM, MBD- Kasus dugaan tindakan tidak pantas oleh seorang guru di SMP Negeri 5 Desa Ilmarang, Kecamatan Dawelor Dawera, Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD), terus menuai gelombang reaksi publik.
Video berdurasi singkat yang memperlihatkan seorang guru bernama Ruth Ruimassa, diduga merobek seragam tiga siswa di depan kelas, viral di media sosial dan memantik kemarahan banyak pihak.
Para orang tua murid dengan tegas menyatakan penolakan terhadap perilaku tersebut dan meminta perhatian serius dari pihak sekolah maupun Dinas Pendidikan MBD.
“Kami orang tua dari ketiga murid tidak setuju atas perlakuan guru itu. Kalau anak-anak salah, kasih pembinaan dengan baik, bukan dengan cara seperti ini,” ujar salah satu orang tua, Kamis (6/11/2025).
“Kami menyesal, karena sebagai guru seharusnya bisa mendidik dengan kasih. Kami minta pihak sekolah lihat hal seperti ini dengan serius.”
Aksi tersebut dinilai mencederai martabat peserta didik dan mengikis kepercayaan masyarakat terhadap dunia pendidikan, yang seharusnya menjadi ruang aman dan membangun karakter anak bangsa.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak sekolah maupun Dinas Pendidikan Kabupaten MBD belum memberikan keterangan resmi. Namun, desakan agar oknum ASN tersebut diperiksa dan diproses sesuai hukum semakin kuat.
Surat Terbuka Fredy Mozes Ulemlem: “Tegakkan Keadilan untuk Anak-Anak Ilmarang”
Terkait peristiwa ini, Fredy Mozes Ulemlem, seorang Advokat dan Pemerhati Kebijakan Publik asal Maluku Barat Daya, menyampaikan surat terbuka kepada sejumlah lembaga negara dan pejabat tinggi, termasuk:
1. Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto
2. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo
3. Komnas HAM RI Perwakilan Provinsi Maluku
4. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI)
5. Bupati Maluku Barat Daya
6. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten MBD
Dalam surat terbukanya, Fredy meminta agar pemerintah menindak tegas oknum ASN (guru) yang melakukan tindakan tidak manusiawi tersebut.
Ia menilai, kasus ini adalah refleksi dari proses rekrutmen ASN, CPNS, dan PPPK di sektor pendidikan yang belum transparan dan objektif.
“Proses rekrutmen yang tidak transparan dan tidak adil dapat menyebabkan individu yang tidak kompeten mengisi posisi penting dalam dunia pendidikan,” tulis Fredy dalam suratnya.
“Ini berdampak langsung pada kualitas pendidikan dan pada akhirnya melukai masa depan anak-anak kita.”
Ia juga menegaskan bahwa dunia pendidikan tidak boleh dijadikan tempat mempertontonkan kekuasaan, tetapi harus menjadi ruang yang membentuk karakter dengan nilai kemanusiaan.
“Inilah faktanya. Harap para penjilat diam dan renungkan ini bersama, demi kebaikan Maluku Barat Daya,” tulisnya dengan tegas.
Fredy mendesak agar lembaga berwenang segera mengusut tuntas peristiwa tersebut secara hukum dan administratif, sekaligus melakukan evaluasi sistemik terhadap proses rekrutmen tenaga pendidik di daerah agar lebih berintegritas dan profesional.
Refleksi dan Harapan
Kasus ini menjadi tamparan keras bagi dunia pendidikan di daerah kepulauan seperti Maluku Barat Daya.
Pendidikan seharusnya menjadi ruang kasih, bukan ruang kuasa. Guru bukan hanya pengajar, tapi pembentuk moral, pelita di tengah gelapnya tantangan zaman.
“Guru harus jadi contoh, bukan ancaman. Pendidikan sejati dimulai dari empati,” tulis salah satu komentar warganet di media sosial.
Masyarakat berharap agar pemerintah daerah dan aparat hukum tidak menutup mata, karena tindakan tegas dan adil adalah satu-satunya jalan menjaga martabat dunia pendidikan di Maluku. (MIM-MDO)





