
MALUKU INDOMEDIA.COM, PIRU– Perayaan Natal Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) di Lapas Kelas IIB Piru, Jumat (19/12/2025), menjadi ruang refleksi iman yang nyata dan kontekstual. Natal tidak dirayakan di gedung megah, tetapi di balik jeruji besi—tempat harapan sering diuji, namun kasih tetap menemukan jalannya.
Ketua DPC GAMKI SBB, Yabes Soahaly, S.Pd, menegaskan bahwa Natal kali ini sengaja dihadirkan bagi warga binaan sebagai wujud keberpihakan dan tanggung jawab moral GAMKI terhadap sesama.
“Warga binaan adalah keluarga kami. Tanggung jawab pembinaan bukan hanya urusan institusi, tetapi tanggung jawab kita semua secara moral dan iman,” tegas Soahaly.
Ia menambahkan, GAMKI sebagai organisasi kepemudaan independen yang berakar pada gereja, masyarakat, bangsa, dan negara, terus menjalankan panggilan gereja: bersekutu, bersaksi, dan melayani, dengan menghadirkan kasih Kristus secara konkret.
Soahaly berharap momentum Natal ini menjadi titik balik bagi warga binaan untuk menjalani proses pembinaan dengan sungguh-sungguh.
“Tidak sedikit orang yang justru menemukan masa depannya setelah melewati ruang yang gelap. Ada yang masuk sel dulu, baru kemudian berhasil,” ujarnya lugas.
Sementara itu, Kepala Lapas Kelas IIB Piru, Hery Kusbandono, A.Md.IP., S.Sos., MH, menyampaikan apresiasi kepada GAMKI SBB atas perayaan Natal sekaligus penyaluran bantuan sosial bagi warga binaan.

“Kehadiran GAMKI adalah bukti nyata pelayanan kasih. Bantuan ini bukan sekadar materi, tetapi suntikan semangat dan harapan agar warga binaan terus berproses menjadi pribadi yang lebih baik,” kata Kusbandono.
Ia mengajak warga binaan memaknai Natal sebagai ruang perenungan diri, membuka hati terhadap kasih Tuhan, serta membangun komitmen untuk hidup lebih bertanggung jawab.
“Jadikan kasih Kristus sebagai dasar memperbaiki diri, menjaga sikap selama pembinaan, dan mempersiapkan diri kembali ke tengah keluarga dan masyarakat,” tandasnya.
Perayaan Natal GAMKI SBB di Lapas Kelas IIB Piru dipimpin oleh Ketua Kalasis GPM Seram Barat, Pdt. H. Talarima, M.Th, dan berlangsung dalam suasana penuh haru, doa, serta pengharapan.
Natal kali ini membuktikan satu hal: kasih tidak mengenal tembok, dan harapan bisa lahir dari tempat yang paling sunyi. (MIM-CR)





