
MALUKU INDOMEDIA.COM. MALTENG– Di tengah persaingan pasar yang semakin kompetitif, penguatan branding dan pemasaran digital menjadi kunci utama bagi pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) untuk bertahan dan berkembang. Hal inilah yang mendorong Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Universitas Pattimura melakukan pendampingan intensif terhadap UMKM Abon Ikan Wael Malua di Negeri Ureng, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah.
Program yang dipimpin Humairah Almahdali, S.Sos., M.A.P. bersama tim dosen lintas disiplin ini tidak sekadar memberikan pelatihan, tetapi menghadirkan langkah transformasi nyata bagi kelompok usaha perempuan pesisir yang selama ini mengandalkan pemasaran konvensional.
Abon Ikan Wael Malua merupakan produk olahan berbahan dasar ikan lokal Maluku seperti tuna dan cakalang. Potensi produknya besar, namun selama ini masih terkendala pada aspek pemasaran, identitas merek, kemasan, pencatatan usaha, hingga adaptasi terhadap sistem pembayaran digital.
Melihat kondisi tersebut, Tim PKM Unpatti hadir dengan pendekatan yang lebih strategis dan berorientasi masa depan. Fokusnya bukan hanya meningkatkan kualitas produk, tetapi membangun fondasi usaha yang mampu bersaing di era digital.
“Produk lokal memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Tantangannya adalah bagaimana produk tersebut dikenal lebih luas dan mampu menembus pasar yang lebih besar. Karena itu, penguatan branding dan digital marketing menjadi sangat penting,” kata Humairah, Rabu (24/6/2026)
Dalam pendampingan tersebut, pelaku UMKM mendapatkan pelatihan branding, strategi pemasaran digital, pengelolaan media sosial, pembuatan konten promosi, hingga pemanfaatan marketplace sebagai sarana penjualan.
Dosen Administrasi Negara FISIP Unpatti, Jeanly Waisapy, S.Sos., M.Si., yang terlibat dalam program tersebut menegaskan bahwa pelaku UMKM harus mulai bertransformasi mengikuti pola konsumsi masyarakat modern.
Menurutnya, produk yang baik tidak akan berkembang maksimal jika tidak didukung strategi promosi yang tepat.
“Pelaku UMKM perlu memahami cara membangun citra produk, mengelola konten digital, dan memanfaatkan platform pemasaran yang tersedia. Saat ini pasar tidak lagi terbatas pada wilayah sekitar, tetapi bisa menjangkau konsumen yang lebih luas melalui teknologi digital,” ujarnya.
Selain aspek pemasaran, program ini juga memperkenalkan sistem pembayaran digital melalui QRIS. Langkah tersebut dinilai penting karena tren transaksi non-tunai terus meningkat dan menjadi bagian dari kebutuhan usaha modern.
Tim PKM juga mendorong pembaruan kemasan produk agar lebih profesional dengan mencantumkan identitas produk, komposisi, informasi gizi, tanggal kedaluwarsa, logo halal, hingga nomor P-IRT. Perbaikan kemasan diyakini menjadi faktor penting dalam meningkatkan kepercayaan konsumen sekaligus membuka peluang produk masuk ke toko modern dan pusat oleh-oleh.
Ketua Kelompok Wael Malua Negeri Ureng, Aisyah Laitupa, mengaku pendampingan tersebut memberikan wawasan baru bagi kelompok usaha yang dipimpinnya.
“Selama ini kami lebih fokus pada produksi. Dengan pendampingan ini kami belajar bagaimana memasarkan produk secara lebih luas dan mengikuti perkembangan teknologi yang ada,” ungkapnya.
Kegiatan yang turut melibatkan mahasiswa Universitas Pattimura itu menargetkan lahirnya UMKM yang lebih mandiri, profesional, dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
Lebih dari sekadar program pengabdian masyarakat, pendampingan ini menjadi contoh konkret bagaimana perguruan tinggi dapat hadir sebagai motor penggerak transformasi ekonomi masyarakat pesisir.
Di tengah upaya pemerintah mendorong digitalisasi UMKM nasional, langkah yang dilakukan Tim PKM Universitas Pattimura menunjukkan bahwa produk lokal Maluku memiliki peluang besar untuk naik kelas. Dengan branding yang kuat, pemasaran digital yang terarah, dan dukungan teknologi pembayaran modern, Abon Ikan Wael Malua berpotensi menjadi salah satu produk unggulan daerah yang mampu bersaing di pasar regional hingga nasional. (MIM-MDO)






