
MALUKU INDOMEDIA.COM, AMBON— Di tengah derasnya narasi perpecahan yang kerap mewarnai ruang publik nasional, Maluku kembali menunjukkan wajah aslinya: tanah persaudaraan yang hidup dalam nilai toleransi dan solidaritas antarumat beragama.
Momentum itu terlihat jelas saat anak asli Maluku, Febry Calvin Tetelepta atau yang akrab disapa FCT, kembali menyerahkan bantuan hewan kurban kepada masyarakat Negeri Batu Merah, Kota Ambon, Minggu (25/05/2026).
Penyerahan hewan kurban berlangsung di pelataran Masjid Agung An-Nur dan diterima langsung oleh Raja Negeri Batu Merah, Ali Hatala.
Namun lebih dari sekadar seremoni Idul Adha, kehadiran FCT di Batu Merah menghadirkan pesan sosial yang kuat: toleransi di Maluku bukan slogan kosong, tetapi tradisi hidup yang terus dirawat melalui tindakan nyata.
Disambut Adat, Diterima Sebagai Keluarga
Kedatangan FCT bersama rombongan disambut hangat warga Negeri Batu Merah. Lantunan musik hadrat dari remaja masjid mengiringi prosesi penjemputan dengan suasana penuh kekeluargaan.
Dalam prosesi adat yang sarat makna, FCT juga dikalungkan kain adat Negeri Batu Merah sebagai simbol penerimaan dan penghormatan masyarakat kepada dirinya.
Penyambutan tersebut menjadi penanda bahwa hubungan sosial yang dibangun bukan hubungan politik sesaat, melainkan kedekatan emosional yang telah tumbuh lama di tengah masyarakat.
Di Maluku, simbol adat seperti ini memiliki makna mendalam. Ia menandakan ikatan batin, penghormatan, sekaligus bentuk pengakuan sosial bahwa seseorang telah diterima sebagai bagian dari keluarga besar negeri.
Tujuh Tahun Konsisten, Bukan Sekadar Seremoni
Yang menarik, aksi berbagi hewan kurban ini bukan pertama kali dilakukan FCT. Selama tujuh tahun terakhir, ia tercatat konsisten menyalurkan hewan kurban kepada masyarakat Muslim di Kota Ambon.
Konsistensi inilah yang kemudian menjadi pembeda di tengah realitas sosial yang sering dipenuhi pencitraan sesaat dan kepedulian musiman.
Bagi warga Batu Merah, kehadiran FCT setiap momentum Idul Adha bukan hanya tentang bantuan semata, tetapi tentang menjaga hubungan persaudaraan lintas iman yang terus hidup di tengah masyarakat Maluku.
Di tengah tantangan sosial dan polarisasi yang semakin mudah diproduksi di media sosial, langkah seperti ini justru menjadi pengingat bahwa Maluku memiliki fondasi budaya yang kuat: hidup orang basudara.
Merawat Pela Gandong di Tanah Manise
Apa yang dilakukan FCT dinilai sejalan dengan semangat Pela Gandong — warisan budaya Maluku yang mengajarkan persaudaraan, saling menjaga, dan saling membantu tanpa memandang identitas.
Nilai-nilai itu kini semakin penting dirawat, terutama di tengah perubahan sosial yang cepat dan meningkatnya potensi fragmentasi di masyarakat.
Bagi masyarakat Batu Merah, bantuan hewan kurban bukan sekadar soal daging yang dibagikan kepada warga. Lebih dari itu, ada pesan moral tentang kebersamaan, penghormatan, dan ketulusan berbagi.
Dan dari Batu Merah, Maluku kembali mengirim pesan kepada Indonesia: toleransi sejati tidak lahir dari pidato panjang, tetapi dari tindakan nyata yang terus dijaga dengan hati. (MIM-CN-MDO)






