
MALUKU INDOMEDIA.COM, AMBON— Semangat kebersamaan dan nilai kemanusiaan kembali ditunjukkan Pengurus Daerah Wanita Islam Kota Ambon melalui kegiatan pemotongan hewan kurban yang berlangsung di RT 001/RW 001 Kelurahan Silale, Kota Ambon, Kamis (28/5/2026).
Kegiatan yang dipimpin langsung Ketua Pengurus Daerah Wanita Islam Kota Ambon, Nona Ailau Hatapayo, S.Sos, itu dihadiri Pembina Wanita Islam Kota Ambon, Ibu Lisa Wattimena, serta Wakil Ketua Wanita Islam Provinsi Maluku, Hajah Fatimah.
Momentum Idul Adha tersebut bukan sekadar seremoni penyembelihan hewan kurban, tetapi menjadi ruang memperkuat nilai sosial, toleransi, dan persaudaraan antarumat beragama di Kota Ambon.
Dalam sambutannya, Ibu Lisa Wattimena mengaku bersyukur dapat hadir dan menyaksikan langsung proses pemotongan hingga penyaluran daging kurban kepada anak yatim piatu dan para janda di kawasan Silale.
Menurutnya, meski dirinya seorang non muslim, namun semangat berbagi dan kebersamaan yang ditunjukkan masyarakat muslim dalam momen Idul Adha memiliki makna kemanusiaan yang sangat mendalam.
“Ini bukan hanya soal berkurban, tetapi tentang keikhlasan dan ketulusan berbagi kebahagiaan bersama. Kita hidup sebagai makhluk sosial yang harus saling menjaga dan menghargai,” ungkap Lisa.
Ia menegaskan, kehidupan masyarakat Ambon dan Maluku selama ini dibangun di atas nilai-nilai persaudaraan yang kuat. Budaya pela gandong, kata dia, menjadi simbol nyata bagaimana masyarakat dengan latar belakang suku, agama, dan budaya berbeda tetap hidup berdampingan dalam damai.
“Baku sayang, laeng jaga laeng, laeng sayang laeng. Nilai-nilai ini harus terus dijaga bersama. Ini wajah Maluku yang sesungguhnya,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua PD Wanita Islam Kota Ambon, Nona Ailau Hatapayo, mengatakan kegiatan kurban menjadi bagian dari komitmen organisasi dalam memperkuat kepedulian sosial kepada masyarakat yang membutuhkan.
Penyaluran daging kurban kepada anak yatim piatu dan ibu janda disebut sebagai bentuk nyata hadirnya organisasi perempuan Islam di tengah masyarakat, bukan hanya dalam kegiatan keagamaan, tetapi juga aksi sosial yang menyentuh langsung kehidupan warga.
Kegiatan berlangsung penuh keakraban dan menjadi potret kuat toleransi serta solidaritas sosial masyarakat Kota Ambon yang hingga kini tetap terjaga di tengah keberagaman. (MIM-MDO)







