
MALUKU INDOMEDIA.COM, AMBON– Tragedi kecelakaan laut yang terjadi di perairan Pulau Dai, Kecamatan Babar Barat, Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD), terus menyita perhatian publik. Di tengah upaya pencarian yang masih berlangsung, desakan agar operasi penyelamatan diperkuat kini semakin menguat.
Ketua Umum DPP PEMASKEBAR, Prof. Bob Mosse, yang juga dikenal sebagai salah satu tokoh senior Maluku Barat Daya, pada Jumat (12/6) mendatangi langsung Kantor Basarnas di Ambon. Kehadirannya bukan sekadar bentuk empati, melainkan langkah nyata untuk mendorong percepatan operasi pencarian terhadap delapan korban yang hingga kini masih dinyatakan hilang.
Prof. Bob Mosse meminta agar Basarnas Pusat segera menginstruksikan Basarnas Maluku untuk mengerahkan armada utama beserta personel tambahan guna mendukung upaya pencarian yang saat ini dilakukan Pemerintah Daerah Maluku Barat Daya bersama unsur gabungan di lapangan.
Desakan serupa juga datang dari DPC GAMKI Maluku Barat Daya yang telah menyampaikan surat resmi kepada Basarnas Maluku. Selain itu, Pusdalops BPBD MBD juga telah menyampaikan permintaan dukungan guna memperkuat operasi pencarian dan penyelamatan.
Hingga berita ini diturunkan, berbagai pihak masih menunggu respons resmi Basarnas Maluku terkait permintaan pengiriman armada dan tambahan personel ke lokasi kejadian.
Sementara itu, berdasarkan data terbaru dari Tim Dinas Kesehatan Kabupaten Maluku Barat Daya yang bersumber dari Puskesmas Sinairusi, terdapat dua korban yang berhasil ditemukan dalam keadaan selamat. Satu korban saat ini masih menjalani perawatan intensif di Puskesmas, sementara satu korban lainnya menjalani rawat jalan.
Di sisi lain, tim gabungan yang terdiri dari unsur TNI, Polri, ASN, BPBD, Syahbandar, dan masyarakat terus berupaya melakukan pencarian terhadap delapan korban yang masih hilang. Operasi pencarian saat ini difokuskan ke wilayah perairan menuju gugusan Pulau Teon, Nila, dan Serua dengan menggunakan KM Teifelin.
Namun, proses pencarian menghadapi sejumlah kendala serius. Selain keterbatasan jaringan komunikasi di lokasi operasi, cuaca buruk juga menjadi hambatan utama. Berdasarkan laporan lapangan, kecepatan angin berkisar antara 18 hingga 28 knot dengan tinggi gelombang mencapai 1,25 hingga 2,5 meter.
Kondisi tersebut menyebabkan tiga unit long boat bantuan yang telah disiapkan belum dapat diberangkatkan karena pertimbangan keselamatan.
Situasi ini memunculkan harapan besar agar dukungan dari Basarnas segera direalisasikan. Sebab, dalam operasi pencarian dan penyelamatan, faktor waktu menjadi sangat menentukan peluang ditemukannya korban.
Namun bagi Prof. Bob Mosse, tragedi di perairan Pulau Dai tidak boleh berhenti hanya pada upaya pencarian korban. Musibah ini juga harus menjadi momentum evaluasi menyeluruh terhadap budaya keselamatan pelayaran di wilayah Maluku Barat Daya yang selama ini masih sering diabaikan.
Menurutnya, sudah saatnya seluruh pemerintah desa di Kabupaten Maluku Barat Daya mulai menyusun dan memperkuat Peraturan Desa (Perdes) yang secara khusus mengatur standar keselamatan transportasi laut.
“Saya mendorong agar setiap desa segera memiliki Perdes yang salah satu poin pentingnya mengatur kewajiban setiap pemilik long boat, speed boat maupun transportasi laut lainnya untuk menyediakan life jacket yang memadai bagi setiap penumpang. Jika masyarakat belum mampu, maka desa harus memikirkan mekanisme penyediaannya. Jangan menunggu ada korban baru kita sibuk mencari solusi,” tegas Prof. Bob Mosse, Jumat (12/6/2026).
Ia menilai masih banyak masyarakat yang menganggap penggunaan life jacket atau baju pelampung sebagai sesuatu yang tidak penting. Bahkan dalam banyak perjalanan antar pulau, aspek keselamatan sering kali kalah oleh kebiasaan dan rasa percaya diri yang berlebihan.
“Kita memang paling sering tidak peduli terhadap keselamatan diri sendiri dan orang lain. Baju pelampung kedengarannya sederhana, bahkan ada yang menganggap lucu untuk digunakan dalam perjalanan dekat. Tetapi ketika musibah terjadi di tengah laut, life jacket bisa menjadi pembeda antara hidup dan mati. Jangan pernah meremehkan hal itu,” ujarnya.
Prof. Bob Mosse mengingatkan bahwa karakteristik Maluku Barat Daya sebagai daerah kepulauan membuat masyarakat sangat bergantung pada transportasi laut untuk hampir seluruh aktivitas kehidupan, mulai dari pendidikan, kesehatan, perdagangan hingga urusan sosial kemasyarakatan.
“Kita hidup di wilayah kepulauan. Laut adalah jalan raya kita. Sampai hari ini transportasi laut adalah sarana utama yang menghubungkan satu pulau dengan pulau lainnya. Karena itu budaya keselamatan harus menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Jangan sampai setiap kali terjadi kecelakaan laut kita hanya berduka, tetapi tidak pernah memperbaiki sistem keselamatan yang ada,” katanya.
Ia menambahkan, pemerintah desa, pemerintah daerah, operator transportasi laut, tokoh masyarakat dan seluruh warga harus mulai membangun kesadaran kolektif bahwa keselamatan pelayaran bukan pilihan, melainkan kewajiban.
“Jangan anggap remeh keselamatan. Nyawa manusia terlalu berharga untuk dipertaruhkan hanya karena mengabaikan alat keselamatan yang sebenarnya bisa disiapkan sejak awal,” tandasnya.
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Maluku Barat Daya melalui Pusdalops BPBD terus membuka jalur informasi bagi keluarga korban maupun masyarakat yang membutuhkan perkembangan terbaru. Informasi dapat diperoleh melalui nomor layanan Pusdalops BPBD MBD di 0812-4722-5882.
Di tengah cuaca yang belum bersahabat, doa dan harapan masyarakat Maluku Barat Daya terus mengalir. Semua pihak berharap cuaca segera membaik sehingga operasi pencarian dapat berjalan maksimal, armada bantuan segera diterjunkan, dan delapan korban yang masih hilang dapat segera ditemukan dalam keadaan selamat.
Tragedi Pulau Dai menjadi pengingat bahwa wilayah kepulauan membutuhkan lebih dari sekadar armada transportasi. Yang dibutuhkan adalah budaya keselamatan yang kuat, aturan yang tegas, dan kepedulian bersama agar laut tetap menjadi penghubung kehidupan, bukan menjadi tempat hilangnya harapan. (MIM-MDO)






