
MALUKUINDOMEDIA.COM, JAKARTA — Seruan keras datang dari Inayah Wahid menjelang momentum Muktamar Nahdlatul Ulama (NU). Demi kemaslahatan jam’iyah NU di masa mendatang, para muktamirin didorong untuk tidak memilih pihak-pihak yang dinilai terlibat dalam konflik yang terjadi di internal organisasi.
Inayah menyerukan agar Muktamar menjadi momentum membuka jalan bagi lahirnya kepemimpinan baru yang mampu menjembatani perbedaan, meredakan ketegangan, sekaligus memulihkan kembali keutuhan jam’iyah NU.
Menurutnya, kepemimpinan NU ke depan tidak boleh sekadar menjadi representasi dari kelompok atau kepentingan tertentu. Sosok yang dipilih harus benar-benar memiliki integritas, akhlakul karimah, serta kesediaan mengabdikan seluruh waktunya untuk NU.
“Demi kemaslahatan jam’iyah NU di masa mendatang, dan membuka jalan lahirnya kepemimpinan baru yang mampu menjembatani perbedaan dan memulihkan keutuhan jam’iyah, kami menyeru muktamirin untuk tidak memilih pihak-pihak yang terlibat dalam konflik yang terjadi.”
Seruan tersebut sekaligus menjadi kritik terhadap pola kepemimpinan yang berpotensi membawa kepentingan lain ke dalam tubuh NU.
Inayah menekankan pentingnya memilih pimpinan yang tidak memiliki konflik kepentingan dengan institusi lain, baik dalam kepentingan ekonomi, bisnis, politik, sosial maupun institusi keagamaan lainnya.
Bagi NU, persoalan tersebut bukan sekadar soal pergantian figur. Kepemimpinan baru dinilai harus mampu menjadi jembatan di tengah perbedaan dan mengembalikan NU sebagai rumah besar yang menaungi seluruh elemen jam’iyah.
Pesan Inayah menjadi relevan di tengah dinamika internal NU yang belakangan diwarnai perbedaan pandangan dan ketegangan antarkelompok. Muktamar pun tidak hanya dituntut menghasilkan pemimpin baru, tetapi juga menghadirkan rekonsiliasi dan pemulihan keutuhan organisasi.
Karena itu, pilihan para muktamirin akan menjadi penentu arah NU ke depan: apakah kembali terjebak dalam pertarungan kepentingan, atau berani melahirkan kepemimpinan yang independen, berintegritas dan sepenuhnya mengabdi untuk kemaslahatan jam’iyah.
Pesannya tegas: jangan membawa konflik lama ke masa depan NU. Muktamar harus menjadi pintu lahirnya kepemimpinan baru. (MIM-MDO)





