
MALUKU INDOMEDIA.COM, DOBO — Bupati Kepulauan Aru Timotius Kaidel secara resmi membuka Temu Raya Pengasuh yang digelar Jemaat GPM Karseka, Klasis Pulau-pulau Aru, Minggu (28/8/2026).
Kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi ruang pertemuan para pengasuh, tetapi menjadi momentum untuk memperkuat peran gereja dalam membentuk karakter, moral, spiritualitas, dan kecerdasan etik generasi muda di tengah perubahan sosial yang semakin cepat.
Turut hadir Ketua DPRD Kepulauan Aru Silvana Loy, Plh Sekda Adolop Pokar, Ketua Tim Penggerak PKK Kepulauan Aru Ny. Claudiyah Amarisah Kaidel, Kapolres Kepulauan Aru AKBP Albert Perwira Sihite, Ketua Klasis Pulau-pulau Aru Pdt. Hengky Musa, S.Th., serta sejumlah tamu undangan lainnya.
Dalam sambutannya, Kaidel menegaskan bahwa Temu Raya Pengasuh bukan sekadar ajang berkumpul, melainkan bagian strategis dari upaya gereja memastikan pendidikan nonformal di lingkungan GPM berjalan terarah dan menghasilkan dampak yang terukur.
“Temu raya ini bukan sekadar ajang berkumpul, melainkan program strategis gereja untuk menjamin berlangsungnya pendidikan formal gereja di lingkungan GPM secara baik dan dengan hasil yang terukur,” ujar Kaidel.
Ia memberikan apresiasi kepada Klasis Pulau-pulau Aru yang terus mendorong pembinaan anak melalui pelayanan pengasuhan di gereja.
Menurutnya, pendidikan gereja memiliki posisi penting dalam melengkapi pendidikan formal di sekolah, khususnya dalam membangun fondasi etika, budi pekerti, kasih, dan karakter.
Kaidel bahkan menempatkan para pengasuh sebagai “mitra moral negara”.
Ia menilai pembinaan anak di lingkungan gereja merupakan bentuk dukungan nyata terhadap pembangunan sumber daya manusia yang berintegritas. Pengasuhan, kata dia, merupakan proses pendidikan jangka panjang yang menjadi bagian dari ekosistem pendidikan nonformal dan berkelanjutan.
Namun, tantangan pengasuh saat ini tidak lagi sederhana.
Generasi yang mereka dampingi tumbuh dalam lingkungan digital dengan pola komunikasi, cara belajar, dan tantangan sosial yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya.
Karena itu, Kaidel mendorong agar para pengasuh tidak berhenti pada pengalaman, tetapi terus meningkatkan kapasitas dan kemampuan mengajar.
Mereka perlu memahami strategi pembelajaran yang relevan dengan karakter anak, perubahan sosial, perkembangan kehidupan bergereja, hingga tantangan yang muncul akibat perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
“Anak-anak kita kini adalah generasi Z dan Alpha. Mereka berhadapan langsung dengan gelombang digitalisasi dan perkembangan artificial intelligence. Karena itu dibutuhkan kepekaan para pengasuh untuk memahami realitas kehidupan anak,” katanya.
Menurut Kaidel, perkembangan teknologi tidak hanya membawa kemudahan, tetapi juga menghadirkan tantangan terhadap pembentukan moral dan karakter anak.
Karena itu, gereja dituntut mampu menyesuaikan metode pengajaran tanpa kehilangan nilai-nilai dasar iman.
Temu Raya Pengasuh, lanjutnya, harus menjadi bagian dari strategi gereja mempersiapkan pendidikan yang mampu memberi dampak terhadap pertumbuhan spiritualitas, kecerdasan etik, moral, sosial, dan ekologis anak.
Kaidel juga mengajak para pengasuh untuk terus memberikan diri dalam pelayanan dan meningkatkan kemampuan dalam menjalankan tugas pengasuhan di SMTPI.
“Saya memohon supaya para pengasuh dapat memberi diri untuk terus dibekali dan semakin tangguh melaksanakan tugas pengasuhan di SMTPI, membentuk terus generasi emas gereja menuju satu abad GPM pada 2035, dan menjadi titian emas pula untuk Indonesia Emas 2045,” pintanya.
Dalam kesempatan tersebut, Kaidel menyampaikan terima kasih kepada pimpinan Sinode GPM, Klasis Pulau-pulau Aru, dan Jemaat Karseka atas kemitraan yang telah dibangun bersama pemerintah.
Menurutnya, sinergi antara pemerintah dan gereja menjadi kekuatan penting dalam membangun kehidupan masyarakat, terutama dalam menghadirkan pembinaan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara iman, moral, sosial, dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan.
“Kiranya Tuhan menolong kita mewujudkan tugas mulia tersebut, dan para pengasuh selalu mampu memberi dampak positif bagi pembentukan karakter iman, spiritual, moral, sosial serta ekologis kepada anak-anak kita,” pungkas Kaidel.
Temu Raya Pengasuh GPM Karseka pun menjadi pesan kuat bahwa menghadapi generasi digital tidak cukup hanya dengan teknologi. Gereja membutuhkan pengasuh yang mampu memahami zaman, tanpa kehilangan arah nilai dan iman. (MIM-REDAKSI)







