
MALUKU INDOMEDIA.COM, AMBON— Mengenal sejarah dan kebudayaan daerah tidak cukup hanya melalui buku pelajaran. Generasi muda Maluku perlu memahami, melihat, dan memaknai langsung warisan budaya yang menjadi bagian dari identitas masyarakat kepulauan ini.
Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan sosialisasi Museum Siwalima yang berlangsung di SMA Negeri 3 Ambon, Senin (26/10/2026). Kegiatan ini menghadirkan Mevie Mailoa, S. A. P, Kasubag Tata Usaha UPTD Museum Siwalima Provinsi Maluku, sebagai pemateri.
Dalam pemaparannya, Mevie mengajak para siswa memahami pentingnya museum sebagai tempat penyimpanan, pelestarian, dan pembelajaran sejarah. Ia juga menekankan pentingnya penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam proses pembelajaran maupun komunikasi sehari-hari.
Menurutnya, kemampuan berbahasa yang baik menjadi bagian penting dari literasi. Para siswa diharapkan mampu mengungkapkan gagasan secara jelas, terstruktur, dan mudah dipahami.
Literasi Sejarah Dimulai dari Pertanyaan Sederhana
Suasana sosialisasi berlangsung interaktif ketika Mevie menanyakan kepada para siswa siapa saja yang pernah mengunjungi museum.
Sejumlah siswa mengangkat tangan dan menceritakan pengalaman mereka. Ada yang pernah berkunjung maupun saat mendapat tugas dari guru.
Namun, pertanyaan berikutnya menjadi tantangan tersendiri: apa sebenarnya museum itu?
Seorang siswa kemudian menjawab bahwa museum merupakan tempat untuk menyimpan benda-benda bersejarah atau peninggalan masa lalu.
Jawaban tersebut mendapat apresiasi dari pemateri. Interaksi ini sekaligus menjadi pintu masuk untuk memperluas pemahaman siswa bahwa museum bukan sekadar bangunan yang menyimpan benda lama, melainkan ruang pembelajaran yang menghubungkan generasi sekarang dengan perjalanan sejarah dan kebudayaan masa lalu.
Dalam kesempatan itu, Mevie juga mengingatkan para siswa agar membiasakan diri menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, termasuk ketika bertanya maupun menyampaikan pendapat.
Pesan tersebut menjadi bagian penting dari penguatan literasi di lingkungan pendidikan, agar siswa tidak hanya memahami materi, tetapi juga mampu menyampaikan pengetahuan secara jelas dan tepat.
Museum Siwalima dan Jejak Sejarah Maluku
Dalam penjelasannya, Mevie turut memaparkan latar belakang sejarah Museum Siwalima dan perjalanan koleksi-koleksi budaya Maluku.
Ia menceritakan tentang seorang kolektor asal Belanda bernama Herman de Vries yang tertarik pada berbagai benda budaya dari wilayah Maluku Tenggara, termasuk benda berbahan batu dan kayu serta patung-patung.
Dalam kisah yang disampaikan kepada siswa, koleksi tersebut sempat menjadi persoalan ketika hendak dibawa ke Belanda. Benda-benda itu kemudian ditangani oleh pihak terkait dan disimpan sebagai bagian dari upaya pelestarian kebudayaan.
Mevie juga menjelaskan perjalanan awal Museum Siwalima, yang disebut berdiri pada 8 November 1973 di kawasan Karangpanjang, Ambon, sebelum dipindahkan ke kawasan Taman Makmur pada 20 Maret 1977.
Paparan tersebut memperkenalkan kepada siswa bahwa keberadaan museum berkaitan erat dengan upaya menjaga benda-benda peninggalan agar tetap menjadi sumber pengetahuan bagi generasi berikutnya.
Museum Siwalima menjadi salah satu pusat pelestarian dan pengenalan kekayaan budaya serta sejarah masyarakat Maluku.

5.300 Koleksi, Kekayaan Identitas yang Perlu Dikenali
Mevie menyampaikan bahwa Museum Siwalima memiliki sekitar 5.300 koleksi yang terbagi ke dalam 10 jenis koleksi.
Di antara kategori yang disebutkan dalam pemaparannya ialah etnografi, biologika, dan historika.
Keberagaman koleksi tersebut menggambarkan luasnya kekayaan sejarah, kehidupan masyarakat, serta lingkungan alam Maluku yang perlu terus dipelajari dan dilestarikan.
Bagi para siswa, pengenalan terhadap koleksi museum menjadi kesempatan untuk memahami bahwa benda-benda peninggalan tidak hanya memiliki nilai material, tetapi juga menyimpan cerita mengenai identitas, pengetahuan, tradisi, dan perjalanan hidup masyarakat Maluku.
Karena itu, museum perlu dipandang sebagai ruang pendidikan yang melengkapi pembelajaran di kelas. Melalui pengenalan koleksi dan penjelasan sejarah, siswa dapat mengembangkan rasa ingin tahu sekaligus membangun penghargaan terhadap warisan budaya daerah.
Empat Kelompok Siswa Diajak Mengembangkan Gagasan
Kegiatan sosialisasi di SMA Negeri 3 Ambon diakhiri dengan pembagian siswa ke dalam empat kelompok.
Setiap kelompok diarahkan untuk membahas materi yang akan ditampilkan. Tahapan ini memberikan ruang kepada para siswa untuk berdiskusi, bertukar gagasan, dan mengembangkan pemahaman mereka terhadap materi yang telah disampaikan.
Pendekatan tersebut diharapkan tidak hanya membuat siswa menjadi pendengar, tetapi juga mendorong keterlibatan aktif dalam proses pembelajaran.
Melalui diskusi kelompok, siswa memiliki kesempatan untuk melatih kemampuan berkomunikasi, menyampaikan pendapat dengan bahasa Indonesia yang baik, serta bekerja sama dalam menyusun gagasan.
Jangan Sampai Generasi Muda Asing terhadap Sejarahnya Sendiri
Sosialisasi Museum Siwalima di SMA Negeri 3 Ambon menjadi pengingat bahwa penguatan literasi tidak semestinya berhenti pada kemampuan membaca dan menulis. Literasi juga mencakup kemampuan memahami sejarah, mengolah informasi, serta menjelaskan kembali pengetahuan dengan bahasa yang baik dan benar.
Kekayaan budaya Maluku akan sulit diwariskan apabila generasi mudanya tidak mengenal asal-usul, nilai, dan cerita yang tersimpan di dalamnya.
Karena itu, pengenalan museum kepada siswa perlu terus dikembangkan melalui pembelajaran interaktif, kunjungan edukatif, dan kegiatan kreatif yang membuat sejarah terasa dekat dengan kehidupan mereka.
Museum bukan sekadar tempat menyimpan masa lalu. Museum adalah ruang untuk memahami jati diri, merawat ingatan kolektif, dan membangun kesadaran bahwa warisan budaya merupakan tanggung jawab bersama. (MIM-MDO)







