
MALUKU INDOMEDIA.COM. AMBON– Rilis terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku menggambarkan wajah ekonomi Maluku yang bergerak dalam dua arah. Di satu sisi, aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat terus meningkat. Namun di sisi lain, tekanan inflasi, melemahnya daya beli petani, hingga membengkaknya defisit neraca perdagangan menjadi alarm serius yang tidak boleh diabaikan.
Sepanjang Juni 2026, inflasi Provinsi Maluku tercatat mencapai 1,49 persen (month to month). Kenaikan harga dipicu oleh lonjakan tarif transportasi udara selama musim libur sekolah, kenaikan harga BBM nonsubsidi, serta meningkatnya harga berbagai komoditas pangan akibat cuaca buruk yang mengganggu distribusi hasil laut dan pertanian.
Kabupaten Maluku Tengah menjadi daerah dengan inflasi bulanan tertinggi mencapai 1,82 persen, disusul Kota Tual 1,51 persen, dan Kota Ambon 1,28 persen. Secara tahunan, inflasi Maluku berada pada level 3,80 persen.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi terbesar, disusul sektor transportasi yang mengalami tekanan akibat melonjaknya tarif penerbangan.
Daya Beli Petani Masih Tertekan
Di tengah naiknya harga kebutuhan masyarakat, kesejahteraan petani justru belum menunjukkan perbaikan.
Nilai Tukar Petani (NTP) Maluku turun menjadi 92,68, jauh di bawah angka ideal 100. Kondisi ini menandakan biaya hidup dan biaya produksi petani meningkat lebih cepat dibandingkan pendapatan yang mereka terima dari hasil panen.
Situasi tersebut menjadi sinyal bahwa masyarakat pedesaan masih menghadapi tekanan ekonomi yang nyata meskipun aktivitas ekonomi daerah mulai bergerak.
Impor Meledak, Defisit Perdagangan Kian Dalam
Data perdagangan luar negeri menunjukkan lonjakan impor yang sangat signifikan.
Nilai impor Maluku pada Mei 2026 mencapai US$103,46 juta, naik lebih dari 264 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Hampir seluruh impor tersebut berupa bahan baku industri dan komoditas energi, terutama minyak dan gas.
Sementara itu, nilai ekspor Maluku hanya mencapai US$11,49 juta.
Akibat ketimpangan tersebut, neraca perdagangan kumulatif Januari–Mei 2026 mengalami defisit hingga US$292,68 juta, jauh lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya.
Meski demikian, ekspor komoditas unggulan seperti perhiasan, hasil perikanan, rumput laut, dan damar masih menunjukkan pertumbuhan positif. Tantangan terbesar justru terletak pada tingginya ketergantungan terhadap impor energi yang terus menggerus keseimbangan perdagangan daerah.
Pariwisata Domestik Menjadi Penopang Optimisme
Di tengah tekanan berbagai indikator ekonomi, sektor pariwisata menghadirkan kabar yang lebih menggembirakan.
Jumlah perjalanan wisatawan nusantara terus meningkat sepanjang lima bulan pertama 2026.
Kota Ambon tetap menjadi destinasi favorit dengan kontribusi 34,84 persen dari seluruh perjalanan wisata di Maluku, disusul Kabupaten Maluku Tengah sebesar 30,16 persen.
Data ini menunjukkan bahwa wisata domestik masih menjadi mesin penggerak utama sektor jasa, perhotelan, transportasi, hingga pelaku UMKM lokal.
Catatan Redaksi MalukuIndomedia.com
Data BPS menunjukkan bahwa ekonomi Maluku tidak sedang mengalami perlambatan, tetapi menghadapi tantangan yang semakin kompleks.
Di satu sisi, konsumsi masyarakat, aktivitas industri, dan mobilitas wisata terus meningkat. Namun di sisi lain, inflasi mulai menekan daya beli, kesejahteraan petani belum pulih, serta ketergantungan terhadap impor energi membuat defisit perdagangan semakin dalam.
Pemerintah daerah dituntut tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperkuat sektor produksi lokal, menjaga stabilitas harga pangan, memperluas hilirisasi hasil perikanan dan pertanian, serta mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah.
Jika tidak diantisipasi sejak dini, tekanan inflasi dan defisit perdagangan berpotensi menjadi tantangan serius bagi ketahanan ekonomi Maluku pada semester kedua tahun 2026. (MIM-MDO)





