
MALUKU INDOMEDIA.COM, AMBON– Kinerja ekonomi Provinsi Maluku pada Semester I Tahun 2026 memperlihatkan dua wajah yang kontras. Di satu sisi, nilai ekspor kumulatif mengalami pertumbuhan positif dan mobilitas masyarakat melalui transportasi laut maupun udara terus meningkat. Namun di sisi lain, lonjakan impor yang sangat tinggi membuat defisit neraca perdagangan Maluku membengkak hingga mencapai US$370,45 juta.
Data tersebut disampaikan Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku dalam Berita Resmi Statistik (BRS) yang dirilis Senin (3/8/2026).
Sepanjang Januari–Juni 2026, nilai ekspor Maluku tercatat US$28,46 juta, meningkat 23,06 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan ini terutama ditopang sektor industri pengolahan yang melonjak hingga 32,83 persen.
Meski demikian, performa ekspor pada Juni 2026 justru mengalami tekanan berat. Nilai ekspor hanya mencapai US$430 ribu, atau anjlok 91,58 persen dibanding Juni 2025 yang mencapai US$5,12 juta.
Komoditas ekspor terbesar Maluku masih didominasi perhiasan dan permata dengan kontribusi 55,13 persen, disusul ikan dan udang sebesar 34,23 persen, kemudian rumput laut dan lak, getah serta damar.
Menariknya, sebagian besar komoditas asal Maluku masih diekspor melalui pelabuhan di luar daerah. Banten menjadi pintu keluar terbesar dengan kontribusi 64,44 persen, disusul Jawa Timur sebesar 26,97 persen. Kondisi ini kembali menunjukkan bahwa rantai logistik ekspor Maluku masih sangat bergantung pada provinsi lain.
Sementara itu, dari sisi impor, Maluku mencatat lonjakan yang jauh lebih besar. Nilai impor kumulatif Semester I-2026 mencapai US$398,91 juta, atau meningkat 135,02 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Peningkatan terbesar berasal dari impor barang modal yang melonjak hingga 7.386,49 persen, disusul bahan baku dan barang penolong yang meningkat 113,86 persen. Singapura dan Malaysia masih menjadi dua negara pemasok utama barang impor ke Maluku.
Akibat ketimpangan antara ekspor dan impor tersebut, neraca perdagangan Maluku mengalami defisit sebesar US$370,45 juta. Nilai itu bertambah sekitar US$223,84 juta dibanding Semester I-2025 yang mencatat defisit US$146,61 juta.
Di sektor pariwisata, kondisi perhotelan masih menghadapi tantangan. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel gabungan pada Juni 2026 hanya mencapai 22,93 persen, turun dibanding bulan sebelumnya. Meski demikian, aktivitas wisatawan nusantara menunjukkan tren positif. Selama Januari–Juni 2026, perjalanan wisatawan nusantara asal Maluku mencapai 1,9 juta perjalanan, meningkat 7,68 persen dibanding tahun lalu.
Kota Ambon masih menjadi destinasi utama perjalanan domestik di Maluku, disusul Kabupaten Maluku Tengah dan Kabupaten Seram Bagian Barat.
Pada sektor transportasi, aktivitas penerbangan domestik menunjukkan perbaikan. Jumlah penumpang yang berangkat melalui Bandara Pattimura Ambon meningkat 15,88 persen dibanding bulan sebelumnya, sementara volume angkutan barang juga mengalami pertumbuhan baik secara bulanan maupun tahunan.
Sementara itu, transportasi laut mencatat dinamika yang lebih kuat. Pelabuhan Yos Sudarso Ambon mengalami lonjakan keberangkatan penumpang hingga 33,05 persen dibanding Mei 2026 dan naik 40,78 persen dibanding Juni tahun lalu.
Di sisi lain, aktivitas muat barang pada pelabuhan-pelabuhan pengumpul seperti Saumlaki, Tual, Dobo, Amahai, Namlea, Banda dan Wahai melonjak sangat signifikan. Secara bulanan meningkat 55,46 persen, bahkan secara tahunan mencapai 107,22 persen, menandakan meningkatnya distribusi logistik antarwilayah di Maluku.
Selain itu, Indeks Harga Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM) Maluku pada Juli 2026 tercatat 115,45, naik tipis 0,10 persen dibanding Juni 2026. Kenaikan dipengaruhi meningkatnya biaya sewa, pajak, transportasi, komunikasi, dan upah buruh.
Secara keseluruhan, data BPS menggambarkan bahwa aktivitas ekonomi Maluku mulai bergerak di berbagai sektor. Namun, tingginya ketergantungan terhadap impor dan masih minimnya nilai tambah ekspor menjadi pekerjaan rumah yang perlu mendapat perhatian serius agar pertumbuhan ekonomi daerah tidak hanya ditopang oleh konsumsi dan masuknya barang dari luar, tetapi juga oleh peningkatan daya saing produksi lokal. (MIM-MDO)







