
MALUKU INDOMEDIA.COM, AMBON— Dugaan tindakan yang dinilai merendahkan dan bernuansa rasisme terhadap masyarakat Seram memantik kecaman keras dari Pemuda Seram.
Dugaan tersebut disebut melibatkan seorang ajudan Gubernur Maluku. Pemuda Seram menilai, apabila dugaan itu benar terjadi, persoalannya tidak lagi sebatas perilaku atau persoalan pribadi, tetapi telah menyentuh harga diri, martabat, dan kehormatan masyarakat Seram sebagai bagian integral dari Maluku.
Karena itu, Pemuda Seram mendesak Gubernur Maluku mengambil sikap tegas dan tidak membiarkan dugaan penghinaan terhadap identitas masyarakat berlalu tanpa pemeriksaan.
“Kami orang Seram, bukan monyet. Kami manusia yang memiliki martabat, adat, sejarah dan harga diri. Jangan pernah merendahkan kami hanya karena perbedaan identitas atau asal daerah,” tegas Muslim Azhari S. Lussy, Pemuda Seram, Senin (17/8/2026).
Menurutnya, pernyataan atau perlakuan yang menyamakan masyarakat Seram dengan binatang merupakan sesuatu yang sangat tidak pantas apabila benar dilakukan. Terlebih, tindakan semacam itu dinilai bertentangan dengan nilai-nilai adat, persaudaraan, serta semangat pela-gandong yang selama ini menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial masyarakat Maluku.
Jangan Bawa Nama Kekuasaan untuk Merendahkan Rakyat
Pemuda Seram menegaskan bahwa jabatan, seragam, kedekatan dengan pejabat maupun posisi sebagai ajudan tidak pernah menjadi alasan untuk merendahkan masyarakat.
Sebaliknya, orang yang berada di lingkaran pemerintahan justru dituntut menjadi teladan dalam menjaga etika, menghormati masyarakat dan merawat persatuan.
“Jabatan bukan tiket untuk menghina rakyat. Kedekatan dengan kekuasaan bukan alasan untuk merasa lebih tinggi dari masyarakat. Kalau benar ada penghinaan seperti yang dituduhkan, harus ada pemeriksaan yang terbuka dan tindakan yang tegas,” ujarnya.
Ia menilai pemerintah tidak boleh hanya melihat persoalan tersebut sebagai masalah internal jika dugaan ucapan atau tindakan itu menyentuh identitas kelompok masyarakat.
Sebab, kata dia, penghinaan terhadap identitas suatu komunitas berpotensi menimbulkan luka sosial dan memperlebar jarak antarmasyarakat.
Bukan Memecah Maluku, tetapi Menjaga Martabat
Muslim menegaskan, kritik yang disampaikan Pemuda Seram bukan bertujuan memecah persaudaraan orang Maluku.
Justru sebaliknya, sikap tersebut lahir dari kecintaan terhadap Maluku dan keinginan agar nilai persaudaraan tidak sekadar menjadi slogan.
“Kami tidak sedang memecah Maluku. Kami justru ingin menjaga Maluku. Karena kami mencintai Maluku, maka segala bentuk penghinaan, rasisme, diskriminasi dan pelecehan terhadap identitas masyarakat harus dilawan bersama,” katanya.
Ia kembali menegaskan bahwa masyarakat Seram memiliki sejarah, adat dan kontribusi yang tidak terpisahkan dari perjalanan Maluku.
“Kami orang Seram. Kami punya adat. Kami punya sejarah. Kami punya harga diri. Jangan pernah hina kami dan jangan pernah samakan kami dengan monyet,” tegasnya.
Pemuda Seram juga mendesak agar dugaan tersebut tidak diselesaikan hanya melalui komunikasi tertutup. Jika memang terdapat laporan atau bukti yang dapat diverifikasi, proses pemeriksaan dinilai penting untuk memastikan fakta sebenarnya sekaligus mencegah persoalan berkembang menjadi konflik sosial.
Kini bola berada di tangan Pemerintah Provinsi Maluku. Bukan sekadar soal siapa yang benar atau salah, tetapi bagaimana pemerintah menunjukkan bahwa martabat rakyat tetap berada di atas jabatan dan kekuasaan.
MALUKU INDOMEDIA.COM — Tajam Mengawal Fakta, Berimbang Menjaga Kepercayaan. (MIM-CN)







