
MALUKU INDOMEDIA.COM, AMBON— Seni budaya tidak cukup hanya disimpan sebagai cerita masa lalu. Ia harus terus dimainkan, dipentaskan, dan diwariskan melalui generasi yang hidup hari ini.
Pesan itu terasa dalam penampilan SMA Negeri 1 Ambon pada Pattimura Art & Culture Festival 2026, Jumat, 25 September 2026, di Taman Budaya Karang Panjang, Ambon.
Tampil dengan penuh percaya diri, para siswa SMAN 1 Ambon menunjukkan kreativitas dan kekompakan dalam panggung seni budaya Maluku. Penampilan tersebut sekaligus mengantarkan SMAN 1 Ambon meraih Juara 2 dalam festival tersebut.
Capaian itu bukan sekadar angka dalam daftar pemenang. Di balik panggung, ada proses latihan, kerja sama, keberanian tampil, dan kemauan generasi muda untuk mengenal sekaligus memainkan kembali kekayaan budaya daerah.
Festival Pattimura Art & Culture 2026 turut menghadirkan beragam seni tradisional Maluku, di antaranya orlapel, saureka-reka, katreji, dan tari samrah.
Di tengah perubahan zaman dan derasnya budaya populer, ruang seperti festival seni menjadi penting karena mempertemukan tradisi dengan generasi muda.
Anak-anak muda tidak hanya ditempatkan sebagai penonton kebudayaan, tetapi menjadi pelaku yang ikut menghidupkannya.
Penampilan SMAN 1 Ambon memperlihatkan bahwa sekolah dapat menjadi salah satu ruang strategis untuk mempertemukan pendidikan dengan kebudayaan.
Sebab, pendidikan tidak hanya berbicara tentang nilai akademik. Ada kreativitas, karakter, kerja sama, keberanian, dan identitas daerah yang juga tumbuh melalui pengalaman berkesenian.
Prestasi Juara 2 tentu menjadi kebanggaan bagi keluarga besar SMAN 1 Ambon. Namun, makna yang lebih jauh berada setelah panggung selesai dan piala dibawa pulang.
Tantangannya adalah bagaimana semangat berkesenian itu tidak berhenti pada satu festival.
Budaya Maluku membutuhkan generasi yang bukan hanya mampu memenangkan kompetisi, tetapi juga memahami nilai yang terkandung di balik setiap gerak, musik, tarian, dan tradisi yang mereka tampilkan.
Karena itu, panggung seperti Pattimura Art & Culture Festival menjadi lebih dari sekadar arena perlombaan.
Ia menjadi ruang untuk membuktikan bahwa budaya Maluku masih memiliki tempat di hati generasi muda.
Kini, yang perlu dijaga adalah agar semangat tersebut terus tumbuh—dari panggung festival, masuk ke lingkungan sekolah, keluarga, komunitas, hingga menjadi bagian dari keseharian generasi muda Maluku.
Seni boleh berkembang mengikuti zaman. Tetapi akar budaya jangan sampai hilang. (MIM-MDO)







