
MALUKU INDOMEDIA.COM, AMBON– Pernyataan tegas sekaligus penuh refleksi disampaikan Wali Kota Ambon, Bodewin Wattimena, terkait persoalan air bersih yang hingga kini belum dinikmati seluruh masyarakat Kota Ambon.
Dalam sambutannya pada peringatan Hari Anak Nasional 2026 di Swiss-Belhotel Ambon, Rabu (23/7/2026), Bodewin menyebut persoalan air bersih sebagai “dosa turunan” yang diwariskan dari satu pemerintahan ke pemerintahan berikutnya dan belum berhasil dituntaskan.
“Akses air bersih ini dosa turunan kita semua. Kota Ambon sudah berusia 451 tahun, tetapi air bersih belum bisa dinikmati oleh seluruh masyarakat Kota Ambon,” kata Bodewin.
Pernyataan tersebut menjadi pengakuan terbuka bahwa persoalan pelayanan dasar masih menjadi pekerjaan rumah besar pemerintah, meski Kota Ambon telah memasuki usia lebih dari empat abad.
Menurut Bodewin, kondisi tersebut tidak boleh terus diwariskan kepada generasi berikutnya. Karena itu, Pemerintah Kota Ambon menempatkan penyediaan akses air bersih sebagai program prioritas nomor satu.
“Pemerintah Kota hari ini mempunyai satu program prioritas, dan itu nomor satu, yaitu akses air bersih kepada masyarakat. Jaringan-jaringan baru terus dibuka agar semakin banyak warga yang dapat menikmati pelayanan air bersih,” ujarnya.
Hak Dasar Warga, Bukan Sekadar Proyek Infrastruktur
Dalam konteks peringatan Hari Anak Nasional, Wali Kota mengaitkan penyediaan air bersih dengan pemenuhan hak dasar anak.
Menurutnya, anak-anak berhak tumbuh dalam lingkungan yang sehat dengan akses terhadap air bersih yang layak. Karena itu, penyelesaian persoalan air bersih bukan sekadar pembangunan infrastruktur, tetapi juga investasi terhadap kualitas generasi masa depan.
Ia mengingatkan bahwa jika persoalan tersebut diselesaikan secara konsisten sejak dahulu, masyarakat Kota Ambon tidak lagi menghadapi persoalan distribusi air hingga saat ini.
“Kalau ini dilakukan oleh setiap pemimpin, pasti hari ini seluruh masyarakat sudah menikmati akses air bersih,” katanya.
Pengakuan yang Mengundang Evaluasi
Pernyataan “dosa turunan” yang dilontarkan Wali Kota dinilai sebagai bentuk pengakuan bahwa persoalan air bersih merupakan masalah struktural yang tidak bisa lagi diselesaikan dengan pendekatan jangka pendek.
Selama bertahun-tahun, keluhan masyarakat mengenai distribusi air bersih masih menjadi isu yang berulang di berbagai kawasan Kota Ambon. Di sejumlah wilayah, warga bahkan masih bergantung pada sumur, mata air, maupun pasokan air menggunakan mobil tangki ketika musim kemarau tiba.
Pengakuan tersebut sekaligus menjadi tantangan bagi Pemerintah Kota Ambon untuk membuktikan bahwa program prioritas yang dicanangkan benar-benar mampu mengakhiri persoalan yang telah berlangsung lintas generasi.
Di usia Kota Ambon yang telah mencapai 451 tahun, masyarakat tentu berharap istilah “dosa turunan” tidak lagi menjadi narasi yang terus diwariskan, melainkan berubah menjadi sejarah keberhasilan pemerintah dalam menghadirkan pelayanan air bersih yang merata bagi seluruh warga. (MIM-CN)







